Payung

Cuma payung. Sepele, katamu. Tapi bagiku jauh lebih dari itu.

Siapapun yang tahu pasti bingung. Kamu wanita dan aku pria. Harusnya aku yang menawarkan diri membawakan barangmu. Karena tanganmu perlu kaujaga. Karena ada denting-denting nada yang setia menunggu disentuh jemarimu jadi alunan yang indah. Dan sejujurnya, aku tak tega.

Namun sengaja kutitipkan padamu agar nanti aku punya bahan pembicaraan, kalau-kalau keheningan memaksa untuk masuk di antara kita. Setidaknya aku bisa bilang, aku minta payungku balik. Supaya tak perlu ada jeda yang bisa memberimu kesempatan untuk melihat ke dalam mataku, dan menemukan cinta di sana. Dan agar mereka tahu, ada sesuatu di antara aku dan kamu. Sebagai isyarat halus bahwa bendera perang telah kukibarkan.

Kukira rencanaku sempurna, sampai tak sengaja seorang temanmu membongkar sesuatu: bukan cuma payungku yang ada padamu. Ada satu lagi, yang kausimpan dengan lebih hati-hati.

Di dalam tas Gucci,
bukan di genggaman tangan kiri.

Langit menggelegar, seolah menyuarakan marahku. Lalu menebar tetesan air, memaksaku mengeluarkan kartu as terakhir malam ini. Kuambil kembali payungku dan kuucapkan selamat tinggal. Sudah ada payung lain yang akan melindungimu dari tangis langit malam ini.

Dan sekarang, biar kugenggam erat payungku. Menyerap setiap hangat yang tersisa dari genggaman tanganmu. Agar setidaknya, ada serpihan dirimu untuk menghias malamku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s