Langit Sore Ini

Langit sore ini berwarna merah muda dengan semburat kelabu.

Mengingatkanku padamu.

Aku tahu kamu bukan pecinta abu-abu maupun merah muda. Aku tahu kamu selalu geli setiap kali melihatku memakai baju merah muda. Bukan hanya karena kamu tidak gemar dengan warna tersebut, namun karena kamu tahu bahwa aku juga membencinya. Karena kamu tahu aku suka warna pastel dan coklat, sementara kamu sendiri suka warna jingga dan merah tua.

Tapi langit sore ini begitu indah. Abu-abu semburat merah muda, atau merah muda semburat abu-abu, terserah bagaimana kamu menamainya. Aku suka warna ini. Dan memang inilah warna favoritku, dari semua warna pastel yang berujung pada abu.

Seandainya saja kamu ada di sampingku, kamu akan bertanya, “Sejak kapan kamu suka merah muda?” sambil menahan senyum. Dan mengajukan sebuah saran, “Jangan-jangan kamu sudah jadi lebih feminin sekarang?”

Dan aku akan menggeleng dalam diam. Menandakan ketidakinginan untuk diganggu dari kegiatan menikmati langit sore yang indah. Yang, kalau saja bisa, menjadi latar belakang setiap detikku. Yang, kalau saja bisa, kuabadikan dalam sebuah arca batu, lengkap dengan kamu. Bukan aku sendirian menatap langit senja.

Abu-abu bagiku adalah warna terbaik yang mungkin pernah ada. Keburaman, kesuraman, dan ketidakpastian; namun juga keteduhan sebuah bayangan. Warna paling menentramkan hati, apalagi dengan semburat merah muda yang lebih mirip goresan ngawur pelukis amatir. Cantik: itulah kata yang akan kulontarkan jika kamu memintaku untuk berkomentar. Walaupun makna sesungguhnya takkan pernah bisa terungkap lewat huruf dan kata. Terlalu kompleks untuk digambarkan. Terlalu sedih untuk dikatakan sebagai kegembiraan cinta, terlalu megah untuk dibilang hati yang terluka, terlalu damai untuk disebut sayap yang terkoyak.

Dan aku masih tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaanmu. Tapi pentingkah aku memikirkannya? Toh kamu takkan pernah duduk di sisiku. Toh kamu takkan pernah cukup peduli untuk menanyakannya padaku. Semua hanya impian; skenario gadungan dalam batin dan angan, yang takkan pernah jadi nyata kecuali ada keajaiban.

Aku tahu, dalam benakmu kini aku telah tertutup kabut abu-abu. Sayangnya tanpa diliputi cinta warna merah muda.

Tapi ketahuilah, di setiap detikku, kamu tetap yang terindah, termegah: kamulah abu-abu merah mudaku. Ketenangan sebuah bayangan, keteduhan sebuah cinta, dan kecantikan sebuah cipta.

N.B.: langit sore kemarin, benar-benar abu-abu merah muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s