Senyum

Dia tersenyum lebar, dan tanpa kausadari, ujung-ujung bibirmu ikut melengkung. Senyum getir. Senyum pahit. Yang rasa-rasanya ingin kutelankan untukmu. Aku tahu alasannya: bukan kamu yang menggoreskan senyum itu di wajahnya.

Tolong, jangan hiasi malam dengan senyum itu. Tak tega aku melihatnya. Tak pernah aku membenci senyum yang kautebar, kecuali yang satu ini. Yang belakangan mendominasi ekspresimu. Aku tahu rasanya. Aku mengerti sakitnya.

Perlahan, otot-otot bibirku tergerak. Mengukir senyum yang sama. Karena betapapun aku mencoba, aku takkan pernah bisa memunculkan senyum manismu. Cuma dia yang bisa. Dan demi Tuhan, aku rela.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s