Di Angkasa

Keduanya berpandangan. Melebur dalam cinta, menggores pita-pita warna.

Tak ada yang berani bergerak. Mereka butuh diam untuk tetap bersama. Setitik saja gesekan bisa mengakhiri segalanya. Karena cinta dapat membunuh bila dipermainkan sembarangan.

Terang mulai menghilang, pelan-pelan. Hanyut dalam kekuatan yang tak pernah gagal menenggelamkannya setiap saat ini tiba.

Gelap menitikkan air mata, yang langsung terserap di kanvas jagad. Ia tak pernah suka pemandangan ini. Ia tak pernah suka pertemuan tiga puluh menit yang harus diakhiri dengan pergi. Ia tak pernah suka melihat cintanya menyerpih lalu hilang, menyatu dengan konvoi awan. Tapi apalah dayanya. Ia harus tetap diam. Sepatah kata saja bisa mempercepat kepergian Terang. Ia gigit bibirnya erat-erat, menahan butiran air yang mulai menggenangi pelupuk.

Sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa, susah-payah Terang berbisik, “Kapan kita ketemu lagi?”

Gelap menatapnya lekat-lekat. Menikmati kecantikan yang rapuh itu sekali lagi. Mencoba mengabadikannya dalam memori.

“Subuh besok… seperti hari-hari kita biasanya. Ya?”

Terang melempar senyumnya yang terakhir, lalu melebur dengan langit.

Bulir-bulir menetes dari pelupuk mata Gelap. Melunturi senja, mengubahnya jadi malam.

*

Bintang-bintang mengerling. Awan-awan berjalan bergerombol sambil bercengkerama. Menggoda bulan yang terkantuk-kantuk menjaga langit, menutupi pandangannya dengan tenunan uap air yang mereka bawa. Lalu bulan pun mengusir mereka karena merasa tidurnya terusik, dan para awan melanjutkan perjalanan sambil tertawa-tawa.

Gelap menghembuskan napas rindu. Tak sabar menunggu waktu.

“Hentikan tiupan angin itu,” gerutu bulan dengan suara parau. “Aku sudah cukup kedinginan.”

Malam terdiam sendiri. Mencoba mengamati seisi bumi. Cuma kerlip lampu yang padam satu demi satu, dan desau kendaraan yang makin lama makin sayup. Kembali ia menghela napas, kali ini pelan-pelan agar tak mengganggu bulan.

Dan bergumam lirih, “Waktu, hadirkan Terang untukku…”

*

Gelap menanti dengan resah. Awan-awan turut hilir mudik, sementara bulan mulai berkemas.

Terang? panggilmu dalam hati. Kenapa belum tiba? Sudah jam segini…

Mendadak segaris merah melintas langit. Gelap terlonjak dari penantiannya.

Perlahan tapi pasti, garis-garis warna berlari menggambari langit. Jingga. Kuning. Merah muda. Krem. Nila. Violet. Bagi Gelap, ini ritual setiap pagi. Namun tak pernah sekali pun ia tak terkesima. Begitu juga awan yang mendadak diam. Stagnan. Hanyut dalam keterpesonaan.

Terang muncul malu-malu, pipinya masih merona merah muda. Gelap membelainya, dan merah muda itu meluntur bercampur abu.

“Kamu… cantik.”

Terang cuma makin merona menatap Gelap, tak henti mewarnai subuh. “Berapa lama waktu yang kita punya?”

Gelap menoleh ke belakang dan mendapati sang surya menggeliat bangun. Sekali lagi ia menghela napas.

“Aku tak pernah punya cukup waktu bersamamu… Dan mungkin rindu ini takkan pernah muat di dimensi mana pun,” Gelap tersenyum tipis.

Terang menitikkan air mata. Entah kenapa, berjuta perpisahan yang telah mereka lalui, tak pernah membuatnya lebih tegar. Langit mendadak cair. Yang tadinya merona cinta, kini mulai ternoda biru pucat. Bersamaan dengan itu, Gelap mulai memudar.

Terang tak berkedip menatap sisa siluet Gelap. Baru ketika semuanya hilang, ia usap sisa air mata dan membiarkannya jatuh, menyapu habis sisa warna di angkasa. Bulan sudah pergi. Awan terbangun dari keterpanaan mereka, memberi ucapan selamat pagi, lalu kembali berkelana dalam rombongan.

Terang menoleh ke arah surya yang menatapnya hangat. Mereka bertukar anggukan sebagai sapaan “selamat pagi”. Terang kembali menatap lurus ke horizon tak berujung.

Lalu berbisik lirih, “Gelap, cepatlah tiba…”

Iklan

2 thoughts on “Di Angkasa

  1. entah kenapa sedihnya pas yang mereka janjian mau ketemu lagi. kan udah kebiasaan sehari-hari tapi kayak mgkn besok nggak akan terjadi.
    aduh, kbykan baca cerita mu aku jadi ikutan mellow kann..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s