Hujan

Satu demi satu mereka jatuh. Menghambur di pelukan bumi. Meresap jatuh, menghilang tanpa bekas. Melesat ke perut bumi, bersemayam di sana. Mengaktifkan lagi enzim-enzim kehidupan.

Aku menengadah. Jangan tahan tangismu, langit.

Pelan tapi pasti, tetes-tetes menyerang makin agresif. Mendadak pandanganku buram. Entah karena hujan atau air mata.

Kulepas kacamata dan kumasukkan ke dalam kantung kemeja. Kuusap mata dengan lengan kanan, tapi apalah gunanya. Kemejaku sama basahnya. Takkan mungkin mataku kering.

Mendadak hujan berhenti. Tidak. Langit masih terisak. Tapi ada yang melindungiku darinya.

“Deras juga…” ia menatap lurus ke depan, tangan kanannya memegang erat setangkai payung biru, yang kini ia bagi denganku.

“Pulang, yuk?”

Aku menatap jauh ke dalam matanya.

Pulang.

Mendadak kenangan itu luruh bersama tetes-tetes yang tersisa dari kemejaku. Mungkin yang kuperlukan memang cuma ini. Seorang yang tetap mau membagi payungnya denganku. Walaupun ia tahu, bukan dia alasanku melarikan diri ke pelukan hujan.

Pulang

Aku mengangguk. “Ya. Kita–” napasku tercekat. Untuk pertama kalinya kata itu terlontar tanpa paksa. “Kita pulang.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s