Surat

Bahkan deretan lilin di pojok ruangan ini pun turut bergandengan tangan memanjatkan bait-bait doa.

Tak ada emosi yang tersisa, baik tawa maupun ratap. Kamu tak bergerak. Setelah puluhan helai kertas turun derajat jadi gumpalan keriput dan entah berapa mililiter cairan hitam kamu alirkan keluar tubuhku, akhirnya kamu bisa menulis dengan kecepatan normal. Selayaknya manusia yang ingin menyandikan pesan untuk dikirim ke seberang lautan. Bukan untuk menumpahkannya total ke dalam sehelai kertas dengan tebal kurang dari satu milimiter. Mana mungkin muat?

Tapi apa dayaku? Bahasaku tidak untuk kamu mengerti, dan tugasku cuma sebagai penyalur tinta. Puluhan abad aku terdidik untuk tidak berkomentar akan apapun yang hendak digoreskan penggunaku. Entah itu salah atau benar. Entah itu jujur atau dusta.

Tugasku cuma menurut, ke mana pun kamu membawaku bergerak. Dua lembar penuh kamu tulis. Dengan hati-hati, kamu melipat surat itu dan menyegelnya dalam amplop putih. Lalu kamu mengangkatku sekali lagi, menuliskan sebuah nama yang kamu hafal mati. Lengkap dengan alamat yang sama khidmatnya kamu simpan di memori. Dan ketika titik terakhir selesai kamu gores, aku pun berdoa bersama lilin-lilin: semoga tintaku mampu membawa isi hatimu ke seberang lautan dan mengurainya di tempat yang tepat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s