Menunggu

Kaupercayakan dirimu di tanganku, berulang kali kamu bilang.

Dari dua puluh meja dan tiga belas pengunjung, mungkin cuma aku yang memperhatikanmu di ruangan ini. Karena aku tahu, kamu perlu seseorang untuk menenangkanmu. Untuk menepuk-nepuk bahumu setiap beberapa menit sekali sebagai ganti kalimat “semua akan baik-baik saja”. Untuk melatih bibirmu agar tak keburu beku ketika dia tiba. Untuk memompa lebih banyak oksigen ke setiap sel tubuhmu agar jantungmu tak perlu bekerja ekstra ketika menatap matanya.

Lima putaran berlalu. Sekali lagi kamu menoleh padaku. Mengamati setiap gerak tubuhku. Lalu kembali memusatkan pikiranmu pada doa dan kemungkinan jalannya cerita: akankah dia tersenyum saat melihatmu nanti? Mungkinkah dia menyetujui proposal cinta yang akan kamu ajukan? Masihkah suaranya semerdu sedia kala? Dan yang paling penting, benarkah ia datang?

Es kopi di gelasmu sudah berubah menjadi air dingin rasa kopi sekarang. Lima putaran lagi sejak yang terakhir. Kini sudah tak ada lagi batasan jelas antara larutan kopi, krim, dan es batu. Semua melebur jadi satu, seolah mencerminkan perasaanmu yang makin campur aduk. Kamu tak lagi tahu apakah kamu bingung atau sedih atau kecewa.

Dan ketika es kopi itu kehilangan kekuatan untuk menahan tetes-tetes embun di gelasmu, hilang juga kekuatanmu untuk menahan magma emosi di lubuk hatimu. Bersamaan dengan embun yang mulai mengaliri meja, bulir-bulir air mata pun menetes dari pelupuk matamu. Membasahi pipi yang sedianya merona semu menahan rindu. Kamu pun sesenggukan. Ditemani dua puluh meja dan tinggal sebelas pengunjung yang merasa tak perlu ikut campur.

Dua puluh putaran berlalu sejak jadwal pertemuan kalian. Pertemuan yang akhirnya cuma berjalan sepihak. Bahkan tangismu telah berganti senyum. Kamu bebas, setelah empat tahun penantian. Kamu tak lagi perlu menunggu, karena saat ini kamu tahu pasti, dia telah pergi. Kini kamu tahu pasti, bukan saluran telepon dan bukan jaringan internet yang harusnya kamu caci maki atas pesan-pesan tak terbalas.

Sekali lagi kamu menoleh padaku. Betapa aku ingin tersenyum. Betapa aku ingin merengkuhmu dan menepuk bahumu sekali lagi, untuk berkata “semua sudah selesai”. Sayangnya aku tak diciptakan untuk itu. Aku cuma diberi tugas untuk membagi waktu ke dalam satuan-satuan kecil yang mungkin bisa dipahami manusia. Dan betapapun aku ingin merengkuhmu, tanganku tak mampu bergerak lebih dari berdetak dan berputar.

Kamu masih memandangiku, mencari satu anggukan untuk mendukungmu pergi. Dan kamu tahu apa jawabku, lewat irama detak teratur yang menyiratkan satu suara bulat.

“Kupercayakan diriku di tanganmu, waktu,” kamu berbisik.

Dan kamu berbalik pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s