Lilin

Malam ini kamu nyalakan sebatang lilin. Untuk memperingati asmara yang berkibar di hati. Segenap kasih tulus yang kamu isyaratkan lewat kata dan perbuatan. Yang membanjiri segala medium komunikasi antara kalian.

Malam ini kamu nyalakan sebatang lilin. Untuk memperingati tepat dua tahun kamu memilih dia. Tujuh ratus tiga puluh satu hari tepatnya, karena ada tahun kabisat dalam rangka itu. Ribuan jam kamu habiskan untuk mencoba merebut hatinya. Ribuan jam pula kamu habiskan untuk membayangkan betapa sempurnanya kalian bila menjadi satu dan bukan dua. Kamu bahkan tak berani menghitung berapa banyak jatah tidurmu yang terbuang, sampai ratusan kali kamu ditanya mengapa kantung matamu makin hari makin menggantung.

Malam ini kamu nyalakan sebatang lilin. Untuk memperingati satu tahun hati yang porak-poranda. Yang selalu kamu andaikan “diterjang tsunami cinta”. Cuma tinggal puing, ucapmu diplomatis. Sejak setahun yang lalu, ketika dia menggelengkan kepala pelan tapi pasti pada proposal cintamu. Penolakan yang justru membuatmu berjuang lebih keras, sambil meyakinkan diri bahwa mungkin dia memang terlalu indah untuk diraih secepat itu. Tak ada yang mudah di dunia ini, dan mungkin dia memang perlu usaha ekstra.

Satu hal yang kamu lupa, kota yang diterjang tsunami tak perlu dibangun ulang menjadi persis sama seperti yang dulu. Tak perlu mempertahankan arsitektur lama kalau bisa mendirikan gedung-gedung baru dengan fondasi lebih kokoh. Tak perlu memaksa mendaur ulang puing-puing yang berserakan kalau bisa membangun dengan bahan yang baru. Sementara tsunami menghancurkan, dari sisi lain ia membersihkan: kapan lagi kamu punya kesempatan untuk memulai dari nol, tanpa terbeban oleh sejarah?

Malam ini kamu nyalakan sebatang lilin, dan kini lilin itu kamu tiup. Mendadak ruang itu senyap gulita. Kamu terdiam, mencoba meredam gejolak emosi. Namun seiring matamu menyesuaikan diri dalam gelap, hatimu pun demikian adanya. Mendadak kamu tersadar. Hanya dalam gelap kamu bisa melihat indahnya lampu-lampu kota. Hanya dalam gelap kamu bisa merasa lembutnya pantulan sinar bulan. Hanya dalam gelap kamu bisa kagumi ratusan bintang yang gemerlap, tanpa didominasi sang bintang utama yang menyilaukan.

Perlahan kamu tersenyum. Puing-puing itu satu persatu kamu lempar ke samudra cinta. Menyumbang satu untai baru bagi rajutan kisah dunia. Sementara kamu membersihkan hati demi episode baru yang mungkin menghampiri.

Malam ini kamu nyalakan sebatang lilin. Untuk memperingati awal yang baru. Untuk terangi perjalanan cintamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s