Kalian

Lagi-lagi aku berdiri di sini, ditemani satu buku tebal, setumpuk kertas kosong, dan alat tulis. Di depan gerbang kaca yang dijaga oleh seperangkat tombol angka, satu speaker, dan satu lensa kamera mikro. Satu helaan napas kuhembuskan sebelum aku memencet satu rentetan tombol yang kuhapal mati: satu, empat, dua, lalu tombol panggil.

“Masuk,” speaker itu berbunyi dan gerbang kaca di depanku membuka.

Aku masih termangu ketika melihat sensor di pojok gerbang mulai mengedipkan cahaya merah. Cepat-cepat aku melangkah, sebelum dua bilah kaca itu kembali mengatup. Aku tak mau harus sekali lagi menekan empat tombol itu dan mendengar suaramu. Atau suaranya.

Kalau saja sistem pengamanan apartemen tak seketat ini. Kalau saja sensor pintu dan lift tak mengharuskanku naik ke lantai yang dituju dalam waktu lima menit. Kalau saja aku bisa menunda perjalanan naik ke lantai empat belas, tempatmu tinggal, bisa kuundur lebih lama. Kalau saja aku bisa menata hatiku terlebih dahulu di sini, di ruang resepsionis apartemen kalian. Kalau saja aku punya cukup waktu untuk meredam badai impuls yang bergemuruh tanpa beresiko harus naik tangga tiga belas lantai.

Pintu lift terbuka dan aku masuk. Kutekan tombol dengan tulisan angka empat belas. Dan mulai menghitung mundur, sambil memejamkan mata dan mengatur napas. Seketika itu juga bayangmu dan bayangnya bergantian memenuhi benakku.

Kamu, yang mencuri sebagian hatiku sejak pertama pandangan kita beradu. Yang memaksa masuk dalam mimpiku hampir setiap malam dan membuatku bertanya setiap matahari menyapa, mengapa cuma mimpi. Yang menjadi alasan tambahan, kalau bukan yang utama, untuk aku bertahan di subjek Bisnis Makro. Karena itu satu-satunya waktu dalam seminggu di mana aku pasti berada satu ruang denganmu, bahkan jika beruntung, persis di sebelahmu. Walaupun sejujurnya itu lebih membuatku panas dingin daripada terbang ke langit ketujuh.

Sayangnya, suatu kisah takkan indah tanpa konflik. Sementara aku mulai masuk dalam hidupmu, hatiku mulai tergoyah. Karena dia, yang berstatus sebagai sahabatmu. Yang selama enam bulan terakhir resmi menjadi teman tinggalmu seapartemen. Yang memiliki sifat hampir 180 derajat terbalik darimu. Dia, yang mengakhiri kalimat-kalimat seriusmu dengan celetukan yang mengubah atmosfer. Yang tak pernah menginventaris harta bendanya dan hampir saja membuangnya kalau tak keburu kamu berteriak.

Aku tak pernah mengerti bagaimana aku bisa tertarik pada dua insan yang sama sekali jauh dari mirip. Mungkin karena kalian saling melengkapi, dan aku sering terbawa mimpi, ingin jadi Cinderella dengan pangeran yang sempurna. Pangeran yang mampu diam dan mendengar ketika aku butuh telinga, namun juga memercik tawa di saat yang lain. Yang mampu memahami sifat perfeksionisku namun juga mengimbanginya di saat yang berbeda. Yang tahu kapan perlu melontarkan kalimat puitis penuh makna, dan kapan saatnya sekadar membicarakan hal-hal sederhana.

Pintu lift terbuka dan aku terbangun dari lamunan. Aku melangkah ke luar, berbelok ke kiri, dan berjalan lurus sampai ujung. Unit 142. Sekali lagi kuhembuskan napas, lalu aku mengetuk pintu.

Pintu dibuka, dan hatiku kembali bergemuruh menatap senyummu.

“Halo.”

Sekonyong-konyong dia muncul di sebelahmu.

“Pagi bener, udah dateng?”

Kutatap kalian bergantian. Kamu yang menarik lewat diam dan pikiranmu yang sulit ditebak. Dia yang menarik dengan pribadinya yang menghangatkan.

Aku takkan pernah bisa memilih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s