Di Balkon

“Halo.”

“Ya.”

Tak ada suara. Aku tahu kamu tengah merangkai kata. Tolong, mulailah dulu. Aku tak mampu menembus hening ini.

“Ini… Telepon terakhirku.”

Bodoh. Bodooooh. Tolong. Jangan buat aku menangis lagi. Aku ingin bicara, bukan cuma terisak.

Well, aku masih bisa sih telepon kapan-kapan, tapi nggak bisa sering-sering…”

Cukup. Aku sudah tahu. Tak perlu kamu beberkan lagi fakta itu.

“Besok aku ke bandara jam enam. Kamu datang?”

Aku menggeleng. Aku ingin bersuara, namun lidahku beku.

“Netta..?”

Kamu tak perlu mendengar tangisku. Tapi aku butuh waktu untuk meredakan badai ini. Tolong, bersabarlah sedikit. Tunggu hingga kata-kataku cukup ringan untuk mengapung ke permukaan.

“Netta… Kamu nggak apa-apa?”

Jelas ada apa-apa. Tolong, diamlah sebentar.

“Nggak, ” jawabku parau. “Nggak, aku nggak datang.”

“Oh,” suaramu terdengar bingung. “Kenapa?”

Aku menghela napas, mencoba membunuh bulir-bulir air mata yang jatuh. “Nggak lucu, Dith… Aku pasti nangis abis-abisan ntar.”

Kita diam. Aku memejamkan mata. Betapa aku mencintai diam ini. Diam yang selalu menyeruak di tengah kita tanpa permisi, namun tak pernah kita merasa tak nyaman dibuatnya. Tak banyak orang yang bisa menghargai diam seperti kamu, dan sungguh, aku tak rela kehilangan semua ini.

“Netta.”

“Ya?”

Look… Aku nggak mungkin batal pergi.”

Di saat-saat begini, betapa aku berharap kisah hidupku seindah novel roman.

“Tapi aku nggak mungkin lupa sama kamu, Netta. Kamu tahu ini juga berat buat aku… Netta? Kamu masih dengerin?”

“Ya…” ujarku lirih.

“Netta, please –”

“Dith?”

“Ya?”

“Tolong jangan bilang apa-apa lagi.”

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaga untuk melantunkan sebaris kata.

“Aku nggak butuh kata-kata, Dith. Aku butuh kamu. Secara utuh. Kamu, senyummu, kemarahanmu, tampang galakmu, bau tubuhmu, ketenanganmu, tawamu… Semuanya. Dalam satu paket.”

Diam itu masih membelai.

“Detik itu, waktu aku memutuskan untuk memasukkan kamu dalam hidupku, aku tahu: kisah kita punya batas waktu. Sejak detik itu, aku cuma perlu berhitung mundur, sampai tiba saatnya aku harus melepas kamu.

“Kalau mau jujur, sakit hatiku sudah dimulai ribuan jam yang lalu. Kamu cuma tak pernah tahu betapa aku berharap aku tak pernah tahu kamu akan pergi. Betapa aku berharap kamu tiba-tiba hilang dan tak kembali. Betapa aku berharap, seandainya ada satu hari saja yang bisa kuhapus dari hidupku, hari kepergianmulah yang akan kupilih. Sehingga aku tak perlu berucap selamat tinggal. Aku takkan pernah sanggup melihat kamu membalikkan badan dan beranjak menjauh.”

“Netta –”

“Sssh.”

“Kenapa?”

“Boleh aku melihatmu sekali lagi malam ini?”

Dalam pelukan malam, diiringi nyanyian angin, dengan bintang-bintang redup dan bulan yang terkantuk-kantuk sebagai saksi bisu, aku menatap lurus ke balkon seberang apartemenku. Berharap waktu berhenti agar aku bisa lebih lama mengamatimu terakhir kali. Mungkin untuk selamanya.

I love you, Ardith,” bisikku lirih, dan untuk pertama dan terakhir kalinya, aku menangis di hadapanmu.

“Netta…” panggilmu ketika tangisku mulai reda. “I love you too.”

Aku menatap lurus ke depan. Ah, senyum itu. Aku rela mati demi melihatnya sekali lagi.

Look,” suaramu bergetar ditempa angin. “Aku mungkin nggak bisa selalu ada di sisimu. Aku mungkin nggak akan pernah terganti, karena aku memang cuma ada satu. Tapi rasa sayangku tak terbatas. Kapanpun kamu membutuhkan aku –”

“Makasih,” aku memaksakan sebuah senyum. Otakku tak perlu kalimat panjang lebar malam ini. Tak mampu ia mencerna.

Kamu terdiam, memandangku dalam-dalam.

“Tidur, yuk?”

Aku mengangguk. Mengirimkan sebuah senyum, lalu berbalik dan masuk ke dalam apartemen. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana kamu selalu memastikan aku telah aman dalam ruangan hangat sebelum kamu juga berbalik masuk. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana akulah yang membalikkan badan dan kamulah yang harus berkutat dengan bayangan. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana kamu akan menunggu sampai tak ada lagi terang terpancar dari dalam apartemenku.

Namun kali ini aku cuma menutup tirai dan menjadikannya tempat bersandar. Aku tak ingin lampuku mati. Aku tak ingin pergi. Aku tak ingin malam ini habis.

“Netta… Kok lampu apartemenmu masih nyala?”

Perlukah kukatakan, aku masih menunggu?

“Netta, udah malem loh -”

Good night then, Ardith.”

“Netta, come on -”

“Iya, Dith. Good night.”

Kamu menghela napas. Sayup-sayup kudengar suara pintu ditutup.

“Ya sudah. Good night, Netta. Have a nice dream. Jaga diri baik-baik ya.”

“Ya.”

Klik.

Malam itu aku tidak mematikan lampu. Mencoba mengirimkan isyarat dalam mimpimu.

*

Setahun berlalu, dan aku masih berdiri di balkon tiap malam. Sudah dua kali apartemenmu berganti penghuni, yang tak pernah kukenal siapa. Aku tak peduli. Aku tak perlu tahu. Aku cuma perlu melihat bayangmu di sana, tersenyum penuh arti sebelum berucap selamat malam.

Aku tersenyum pahit, sebelum akhirnya masuk lagi ke dalam. Kamu mungkin tak akan pernah kutemui lagi. Tapi kamu selalu ada.

Di balkon seberang apartemenku.

Dan balkon hatiku.

“Halo.”
“Ya.”
Tak ada suara. Aku tahu kamu tengah merangkai kata. Tolong, mulailah dulu. Aku tak mampu menembus hening ini.
“Ini… Telepon terakhirku.”
Bodoh. Bodooooh. Tolong. Jangan buat aku menangis lagi. Aku ingin bicara, bukan cuma terisak.
“Well, aku masih bisa sih telepon kapan-kapan, tapi nggak bisa sering-sering…”
Cukup. Aku sudah tahu. Tak perlu kamu beberkan lagi fakta itu.
“Besok aku ke bandara jam enam. Kamu datang?”
Aku menggeleng. Aku ingin bersuara, namun lidahku beku.
“Netta..?”
Kamu tak perlu mendengar tangisku. Tapi aku butuh waktu untuk meredakan badai ini. Tolong, bersabarlah sedikit. Tunggu hingga kata-kataku cukup ringan untuk mengapung ke permukaan.
“Netta… Kamu nggak apa-apa?”
Jelas ada apa-apa. Tolong, diamlah sebentar.
“Nggak, ” jawabku parau. “Nggak, aku nggak datang.”
“Oh,” suaramu terdengar bingung. “Kenapa?”
Aku menghela napas, mencoba menguasai air mata. “Nggak lucu, Dith… Aku pasti nangis abis-abisan ntar.”
Kita diam. Aku memejamkan mata. Betapa aku mencintai diam ini. Diam yang selalu menyeruak di tengah kita tanpa permisi, namun tak pernah kita merasa tak nyaman dibuatnya. Tak banyak orang yang bisa menghargai diam seperti kamu, dan sungguh, aku tak rela kehilangan semua ini.
“Netta.”
“Ya?”
“Look… Aku nggak mungkin batal pergi.”
Di saat-saat begini, betapa aku berharap kisah hidupku seindah novel roman.
“Tapi aku nggak mungkin lupa sama kamu, Netta. Kamu tahu ini berat banget buat aku… Netta? Kamu masih dengerin?”
“Ya…” ujarku lirih.
“Netta, please –”
“Dith?”
“Ya?”
“Tolong jangan bilang apa-apa lagi.”
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaga untuk melantunkan sebaris kata.
“Aku nggak butuh kata-kata, Dith. Aku butuh kamu. Secara utuh. Kamu, senyummu, kemarahanmu, tampang galakmu, bau tubuhmu, ketenanganmu, tawamu… Semuanya. Dalam satu paket.”
Diam itu masih membelai.
“Detik itu, waktu aku memutuskan untuk memasukkan kamu dalam hidupku, aku tahu: kisah kita punya batas waktu. Sejak detik itu, aku cuma perlu berhitung mundur, sampai tiba saatnya aku harus melepas kamu.
“Kalau mau jujur, sakit hatiku sudah dimulai ribuan jam yang lalu. Kamu cuma tak pernah tahu betapa aku berharap aku tak pernah tahu kamu akan pergi. Betapa aku berharap kamu tiba-tiba hilang dan tak kembali. Betapa aku berharap, seandainya ada satu hari saja yang bisa kuhapus dari hidupku, hari kepergianmulah yang akan kupilih. Sehingga aku tak perlu berucap selamat tinggal. Aku takkan pernah sanggup melihat kamu membalikkan badan dan beranjak menjauh.”
“Netta –”
“Sssh.”
“Kenapa?”
“Boleh aku melihatmu sekali lagi malam ini?”
Dalam pelukan malam, diiringi nyanyian angin, dengan bintang-bintang redup dan bulan yang terkantuk-kantuk sebagai saksi bisu, aku menatap lurus ke balkon seberang apartemenku. Berharap waktu berhenti agar aku bisa lebih lama mengamatimu terakhir kali. Mungkin untuk selamanya.
“I love you, Ardith,” bisikku lirih, dan untuk pertama dan terakhir kalinya, aku menangis di hadapanmu.
“Netta…” panggilmu ketika tangisku mulai reda. “I love you too.”
Aku menatap lurus ke depan. Ah, senyum itu. Aku rela mati demi melihatnya sekali lagi.
“Look,” suaramu bergetar ditempa angin. “Aku mungkin nggak bisa selalu ada di sisimu. Aku mungkin nggak akan pernah terganti, karena aku memang cuma ada satu. Tapi rasa sayangku tak terbatas. Kapanpun kamu membutuhkan aku –”
“Makasih,” aku memaksakan sebuah senyum. Otakku tak perlu kalimat panjang lebar malam ini. Tak mampu ia mencerna.
Kamu terdiam, memandangku dalam-dalam.
“Tidur, yuk?”
Aku mengangguk. Mengirimkan sebuah senyum, lalu berbalik dan masuk ke dalam apartemen. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana kamu selalu memastikan aku telah aman dalam ruangan hangat sebelum kamu juga berbalik masuk. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana akulah yang membalikkan badan dan kamulah yang harus berkutat dengan bayangan. Seperti malam-malam sebelumnya, di mana kamu akan menunggu sampai tak ada lagi terang terpancar dari dalam apartemenku.
Namun kali ini aku cuma menutup tirai dan menjadikannya tempat bersandar. Aku tak ingin lampuku mati. Aku tak ingin pergi. Aku tak ingin malam ini habis.
“Netta… Kok lampu apartemenmu masih nyala?”
Perlukah kukatakan, aku masih menunggu?
“Netta, udah malem loh -”
“Good night then, Ardith.”
“Netta, come on -”
“Iya, Dith. Good night.”
Kamu menghela napas. Sayup-sayup kudengar suara pintu ditutup.
“Ya sudah. Good night, Netta. Have a nice dream. Jaga diri baik-baik ya.”
“Ya.”
Klik.
Malam itu aku tidak mematikan lampu. Mencoba mengirimkan isyarat dalam mimpimu.
*
Setahun berlalu, dan aku masih berdiri di balkon tiap malam. Sudah dua kali apartemenmu berganti penghuni, yang tak pernah kukenal siapa. Aku tak peduli. Aku tak perlu tahu. Aku cuma perlu melihat bayangmu di sana, tersenyum penuh arti sebelum berucap selamat malam.
Aku tersenyum pahit, sebelum akhirnya masuk lagi ke dalam. Kamu mungkin tak akan pernah kutemui lagi. Tapi kamu selalu ada.
Di balkon seberang apartemenku.
Dan balkon hatiku.

Iklan

3 thoughts on “Di Balkon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s