Klise

Aku tahu ini klise. Aku tahu ini membosankan. Aku berani bertaruh suatu hari nanti, kalau bukan besok atau malam ini, kamu akan bilang aku terlalu banyak membaca roman.

Tapi sama seperti kamu yang akan geleng-geleng kepala mendengar narasi ini, aku pun melakukan hal yang sama sekarang, mempertanyakan apa yang selama ini ada di benakmu. Kamu cuma terlalu baik. Terlalu sabar. Terlalu. Dan tahukah kamu, di dunia ini hampir tak ada kata sifat yang bermakna positif ketika ditambahi kata “terlalu”?

Kamu mungkin tak pernah tahu, akulah yang mengharapkanmu lebih dulu. Kamu mungkin tak pernah tahu, sakit itu lebih dulu kurasa saat kamu masih bersama seseorang lain. Ah, sudahlah. Tak ada gunanya membahas yang telah usai.

Satu hal yang perlu kamu tahu, aku cuma menunggu rangkaian kata itu keluar dari mulutmu. Aku tak perlu kata-katamu yang sekarang. Aku tak perlu pertanyaan berulangmu tentang hubunganku dengan dia. Tak ada pihak ketiga dalam masalah ini. Yang ada cuma kita saling menanti.

Aku tak pernah habis pikir, mengapa kamu tak pernah sukses membaca isyaratku sejauh ini. Tak cukupkah sinar mataku menyiratkan debar jantungku saat berbicara denganmu? Tak cukupkah derai tawaku menandakan betapa aku menikmati lelucon-leluconmu? Tak cukupkah kata-kataku menyampaikan pesan bahwa aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu, hidupmu, semua tentang kamu? Dan tak cukupkah sapaan singkatku mengisyaratkan seberapa besar aku terbuai olehmu, hingga tak mampu kata-kataku bersuara?

Dan aku tak pernah habis pikir, mengapa sering kamu katakan, kamu tengah menunggu seseorang yang cuma ada dalam mimpi. Seseorang yang kamu bilang cuma akan jadi milikmu dalam fiksi. Aku tak mengerti. Aku tidak tinggal dalam mimpimu. Aku nyata. Aku ada. Kamu tidak tengah bermimpi. Kamu cuma tenggelam dalam kekuatiranmu sendiri, sampai-sampai yang ada di depan mata, kamu penjara dalam jeruji sempit berjudul mimpi.

Kini tinggal kamu memutuskan, apakah kisah kita akan kamu bebaskan dari jeratan rantai besi. Atau akan kamu bunuh dan kubur dalam-dalam dengan seonggok sesal. Karena aku tahu akulah yang kamu inginkan. Kecuali kamu memang menebar perhatian sama besar pada semua perempuan yang kamu beri label teman. Tidak, kan?

Tolong, jadikan kisah ini nyata. Bukan kodratku untuk memulai. Aku cuma bisa menunggu dan berisyarat. Tolong, akhiri penantian tiada akhir yang menyakitkan ini. Karena memang tak ada yang perlu tersakiti. Karena sesungguhnya aku pun menaruh hati. Karena tak seharusnya ada dalam sejarah, sebuah kisah klise yang tak berakhir bahagia.

Iklan

One thought on “Klise

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s