Bisikan

Don’t whisper what you don’t wish for.

Kamu baca kalimat itu berulang-ulang dalam hati. Kamu blok kalimat itu di layar komputermu, dan kamu mulai bermain dengannya. Perbesar ukuran tulisan. Ganti jenis huruf. Beri warna berbeda. Merah, ungu, biru, jingga, hijau. Cetak miring. Tebal. Garis bawah.

Tapi akhirnya kamu menyerah. Betapa pun kamu berupaya membuat kalimat itu bagian dari hatimu, dari pikiranmu, kamu tetap tak bisa. Yang ada cuma tinggal rasa sesal. Bukan, bukan sesal. Entah rasa apa itu yang mulai menggerogoti relung hatimu. Mungkin bimbang. Atau takut. Atau khawatir.

Sekali waktu di masa yang lalu, kamu mengeluh dan menyalahkan keadaan yang tak memberi pilihan. Kamu merasa terpojok. Kamu tak bisa mengubah keadaan sekalipun ingin. Sekalipun kamu telah membuat rencana lima langkah ke depan lengkap dengan kemungkinan terburuknya. Namun kesempatan itu tak pernah tiba, dan ia jadi sasaran kemarahanmu. Kemudian kamu memohon dalam hati, agar waktu memberi pilihan lebih di lain hari.

Namun mungkin memang benar, manusia selalu mampu melihat cela di setiap mukjizat. Sekarang setelah mimpimu terkabul, kamu lagi-lagi mengeluh. Sekarang setelah kamu mendapat pilihan jauh melebihi yang bisa kamu pilih, kamu bertanya: kenapa langit tidak segera mengirim sang terpilih di awal cerita, sehingga semuanya tak perlu berbelit-belit seperti ini. Dan satu hal yang tak pernah mau kamu akui: kamu tak rela kehilangan semua cinta itu. Sebagaimana kamu selalu punya rencana cadangan, kamu pun tak yakin kamu bisa hidup tanpa seseorang untuk dicadangkan.

Kamu menarik satu napas panjang. Kamu tahan napas itu sambil memejamkan mata, memutar ulang dokumentasi cerita yang terpatri di benakmu. Para lelaki yang datang dan pergi menghiasi hidupmu. Yang menawarkan kitab-kitab kosong untuk ditulisi tinta warna-warni, dengan alur cerita masing-masing. Yang membuatmu terpaksa bermain dadu, menghitung kancing baju, bahkan mencabuti kelopak bunga demi menentukan pilihan. Yang memaksamu membuat diagram untuk mencoba menguantifikasi setiap kelebihan dan kekurangan yang mereka tawarkan.

Kamu buang gelembung-gelembung karbon dioksida itu sedikit demi sedikit, sambil mengulang dua kata: maafkan aku. Dan ketika tak ada lagi yang tersisa untuk dihembus, kamu membuka mata. Menghirup napas pelan-pelan, menormalkan detak jantung. Satu buku kosong telah kamu pilih, memaksa yang lain untuk beralih. Kini kamu berdoa sekali lagi, memohon kesempatan itu datang lagi. Bukan untukmu. Untuk mereka. Yang pernah salah mengira, kamu seharusnya jadi tokoh utama dalam drama cinta mereka.

Di akhir doa itu, kamu selipkan satu permohonan untukmu. Agar kamu pun bisa menerima tanpa merasa kehilangan, saat kesempatan itu nanti datang, menggantikan peran yang selama ini kamu mainkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s