Aurora

Hari itu kamu memutuskan untuk keluar dari permainan bertajuk cinta.

Kamu lelah. Angan dan fakta tak lagi seimbang. Tak ada lagi yang bisa jadi pegangan. Kamu bahkan tak lagi percaya akan definisi cinta. Pernah kamu jatuh, namun itu cuma harapan. Kalian takkan pernah punya cukup waktu untuk mengeluarkan kisah itu dari mimpi. Kamu tak punya cukup kuasa, dia tak punya cukup kasta. Bahkan untuk menengadah di hadapanmu pun dia tak punya cukup derajat. Takkan pernah tiba saatnya ia berdiri di sampingmu, apalagi mempersandingmu.

Ironis memang. Sementara elokmu menebar pesona sampai ke luar benteng kota, cinta bagimu terpenjara dalam batasan status dan harta. Maka kamu memutuskan, untuk keluar sekalian dari perburuan ini. Apalah artinya melempar dadu kalau hasil akhirnya kamu sudah tahu; apalah artinya bersama kalau hanya untuk status?

Hari itu kamu menyusun rencana, bersama orang yang paling kamu percaya. Bukan, bukan sang raja. Bukan juga permaisuri, sang ibu biologis. Namun ibu pengasuhmu, yang paling tahu sakit hatimu, yang tak pernah menjatuhkan vonis pada kisahmu atas nama gelar dan kehormatan. Kamu akan pura-pura tidur dan tak pernah bangun. Hanya itu.

Seisi kerajaan mendadak gempar. Kamu tak peduli. Kamu cuma membait dalam hati: yang berani menyeruak masuk ke sini, dialah yang terpilih. Kamu tak butuh pria yang cuma perlu harta dan gelarmu. Kamu tak perlu pria yang cuma bisa menunggu di sampingmu hingga kamu sadar dan membuka mata. Kamu butuh pria yang punya cukup cinta untuk menerobos para penjaga benteng kastil, dan mengupayakan segala cara untuk buatmu sadar. Yang cukup nekat untuk datang dibantu intuisi, bukan cuma mengandalkan rencana sempurna tanpa aksi.

Seolah bersimpati dengan musibah yang menimpamu, satu-persatu korban mulai jatuh. Sebagian marah pada takdir, bertanya mengapa seorang putri cantik harus menderita begini. Sebagian memandangmu dari jauh, memberi hormat dan kekaguman untuk terakhir kali, menghela napas panjang lalu pergi. Mungkin ia memang cukup sampai di mimpi, dan sekarang saatnya mencari kenyataan, demikian mereka percaya. Sebagian lagi mengutuki kata-kata tak terucap dan merasa hidup tak lagi berguna, lalu memutuskan untuk mengakhirinya sambil mengharap pada langit, kalau-kalau kalian bisa bertemu lagi di alam sana.

Untungnya kepercayaanmu tak salah, dan doamu bersambut. Setelah sekian lama, hari yang kamu nanti akhirnya tiba. Dia datang tak dengan kuda putih, senjata apalagi tameng besi. Kamu tak tahu bagaimana ia menerobos masuk ke dalam kastil tanpa dihadang para prajurit. Tapi kamu tak merasa perlu tahu. Kamu cuma perlu satu ciuman, satu napas kehidupan. Yang memberi bukti bahwa ia punya nyali. Bahwa rintangan seberat apapun akan ia terjang dan lalui.

Kehangatan menyengat sarafmu yang telah lama beku, memaksa matamu untuk membuka.

Dan detik itu menjadi awal sebuah cerita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s