Nol

Tak banyak orang yang memiliki angka favorit. Kalaupun punya, mereka biasanya memilih angka yang memang umum dikeramatkan: dua, tiga, atau tujuh.

Beda dengan mereka, kamu justru menominasikan nol sebagai angka favorit. Siapapun yang mendengar pernyataan itu tak pernah luput bertanya: apa istimewanya angka yang merujuk pada kekosongan, ketiadaan, void, hitam?

Bagimu, nol punya arti jauh lebih dari sekedar kosong. Kamu selalu bilang, nol adalah lambang keadilan. Segala hal di dunia ini, menurutmu, berujung pada nol, sang titik netral. Kamu percaya kebaikan dan kejahatan, kalau saja bisa dikuantifikasi menjadi nilai-nilai positif dan negatif, akan habis menjadi nol ketika dijumlahkan. Kamu percaya bahwa tiap perjuangan akan mengolehkan hasil yang setimpal. kamu percaya setiap manusia punya nilai yang sama: bukan satu atau dua atau sepuluh, tapi nol. Tak ada manusia yang lebih baik dari yang lain, dan sia-sia adanya mencari seorang yang sempurna. Semakin banyak nilai plus yang seseorang miliki, semakin banyak pula kekurangannya, demikian kamu selalu bilang. “Tinggal pilih manusia dengan paket seperti apa yang kamu mampu toleransi,” begitu dulu kamu berujar, saat seorang teman tengah bingung menentukan pilihan.

Belum pernah keyakinanmu goyah, sampai petang ini. Jam tujuh kamu tiba di depan pintuku sambil menggeleng lesu, dengan raut wajah yang kalau ikut dikuantifikasi, bernilai minus satu.

Kamu mulai berkisah, tentang perasaanmu kepada dia. Tentang perjuangan yang bertahun-tahun naik dan turun. Kamu tahu hatinya patut dibayar mahal. Namun kamu tak mengerti mengapa setelah sekian lama, setelah sekian banyak tenaga, cinta, dan doa, semuanya terasa sia-sia.

“Harusnya,” sambungmu setelah satu helaan napas panjang, “Harusnya, kalaupun ia memang harus diperjuangkan dengan segenap jiwa… aku sudah hampir tiba. Di garis finis perjuanganku. Harusnya semua yang kuberi sudah bisa menebus setiap jengkal cintanya. Harusnya setelah sekian lama, cicilanku sudah mendekati lunas. Tapi mengapa ia masih juga terasa begitu jauh, tak tergapai?”

Kita sama-sama diam. Aku bukan paranormal. Aku tak bisa membaca hatimu, hatinya. Aku tak tahu apa yang ia lihat darimu, atau mungkin, apa yang ia tidak lihat darimu. Aku tak tahu seberapa tinggi nilai yang kamu set untuk dia, dan berapa besar perjuangan yang kamu nilai setimpal. Kalau saja tatapanmu tak mendesak minta jawaban, aku lebih suka memilih untuk diam. Membiarkan pertanyaanmu menguap sebagai retorika.

“Mungkin kamu bukan paket yang ia butuhkan,” jawabku pelan.

Kamu diam.

“Memangnya kenapa juga kamu memilih dia, tanpa berpikir untuk berpaling?” aku bertanya.

“Karena dia… paket yang sempurna. Dengan kekuatan dan kelemahan yang dia punya.”

“Dia orang yang kamu butuhkan, atau inginkan?”

Kamu terdiam lagi.

“Aku yakin hidupku akan lebih indah bersamanya.”

“Dan hidupnya akan lebih indah jika ia punya kamu di sampingnya?”

“Aku akan lakukan apa saja demi kebahagiannya. Bahkan selama ini pun aku berjuang –”

“Apa itu artinya dia takkan bisa bahagia tanpa dirimu?”

“Entah. Aku tak tahu.”

Kita bertatapan. Lalu kamu memalingkan muka. Kita sama-sama tahu, kamu telah menjawab pertanyaanmu sendiri.

Wajahmu semakin layu. Boleh kuberi nilai minus empat sekarang?

“Jadi perjuanganku selama ini…” suaramu tersendat.

Ganti aku yang menghela napas. “Tak ada garis finis dalam perjuangan ini. Aku tak pernah setuju kamu bilang cinta seperti lomba lari, karena tak pernah ada batasan gamblang kapan kamu harus berhenti berlari. Kurasa itu sebabnya kita sering mengumpamakan perjuangan cinta sebagai ‘mengejar’. Ketika kamu mengejar seseorang, ia tidak diam di satu tempat sambil melambaikan bendera. Ia pun berlari, sama seperti kamu, entah dengan kecepatan berapa.

“Bagiku cinta adalah masalah penyesuaian ritme. Ada kalanya kamu harus berlari cepat, ada kalanya kamu harus melambat. Kalau kamu terus mengejar seseorang dengan kecepatan tinggi, bukan tak mungkin kamu malah mendahului tanpa sadar ia tertinggal. Dan ini seharusnya bukan usaha satu arah. Kalau kamu memang terlalu cepat, harusnya ia pun mengalah dan berusaha mengejarmu, bukan malah membiarkan kamu pergi… kecuali ia memang tak ingin selalu berada di sisimu.

“Aku tak tahu di mana posisimu saat ini relatif terhadap dia. Aku tak punya GPS yang bisa memantau kalian di peta perburuan cinta. Namun kalau boleh aku berpendapat: jangan hanya kamu yang harus terus berusaha menyesuaikan ritme. Sampai kapan kamu bisa bertahan, ngos-ngosan sendirian?”

Keheningan melahap detik demi detik, sebelum akhirnya kamu beranjak berdiri. Memelukku lalu berjalan ke arah pintu.

“Saatnya mengembalikan kecepatanku ke titik nol, ya?” katamu lirih diiringi senyum getir.

Aku cuma mengangkat bahu. Cukup aku berkata-kata malam ini. Sisanya kuserahkan padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s