Dua Belas

Kamu menanti penuh harap, di hadapan waktu yang ogah-ogahan disuruh tancap gas.

Belum pernah dalam hidup, waktu terasa begitu lambat. Cuma kurang sepuluh menit menjelang jam dua belas. Sepuluh menit yang sedari tadi rasanya tak berkurang. Maka kamu menghitung mundur keenam ratus detik yang tersisa. Membunuhnya satu-persatu, sebagai balasan sakit hatimu.

Jam dua belas, cepatlah tiba, begitu bisikmu dalam hati. Hatimu bingung. Tak tahu harus mendukung atau mencegah. Seakan hendak dikudeta, dua kubu berseteru di dalam sana. Satu bersekutu dengan otakmu, membawa bendera putih tanda merdeka. Satu lagi sibuk musyawarah, tak ingin berubah dari keadaan sekarang. Mau ke mana kita?, tanya mereka. Selagi terjajah, kamu tak perlu memilih. Kamu cukup bergantung pada sang empunya kuasa sambil menyalahkan mereka kalau ada apa-apa. Tapi nanti setelah merdeka, kamu harus bertanggung jawab sendiri atas semuanya…

Herannya waktu seakan ikut bercanda. Mempermainkan perasaanmu, mempertanyakan kesungguhanmu. Mengusik kembali satu pertanyaan yang kamu simpan dalam-dalam: apa sebenarnya yang kamu nanti-nanti dari dentang jam dua belas? Kenapa harus dua belas, bukan sebelas apalagi delapan?

Karena aku perlu dentang itu, jawabmu. Satu dentang megah, yang menjadi gong pembatas antara dua satuan waktu bernama Hari. Garis pembatas yang terlalu tipis untuk ditahan tanpa patah, terlalu kilat untuk dikejar apalagi dibuat stagnan. Tanpa dentang itu kamu takkan tahu kapan saatnya berubah dari wujud pangeran jadi orang biasa. Kamu takkan ingat bahwa labu yang mengingatkanmu pada kendaraan mewah putra raja hanyalah sebuah, uh, labu.

Waktu tak terima dengan penjelasanmu. Ia tak mengerti, kenapa kamu harus menunggu sampai jam dua belas, kalau toh saat ini pun kamu sudah tahu apa yang akan kamu lakukan nanti?

Kamu mengangkat bahu ditemani satu senyum samar. Kamu bisa saja memilih untuk menghentikan sakit hati ini sebelum jam dua belas. Kamu bisa saja memutuskan merdeka sejak tadi jam sembilan. Tapi prinsipmu tetap bergeming. Jam sebelas tak punya dentang semegah jam dua belas. Jam sepuluh mungkin cuma mampu meretakkan fondasi cintamu, sementara jam dua belas meluluhlantakkan segenap bentengnya.

Dan saat ini kamu lebih memilih untuk hancur dikudeta. Karena itu satu-satunya cara kamu bisa mengubur kenangan dan berkata, selesai sudah. Karena kamu takut, kalau kamu membangun benteng baru sementara yang lama masih berdiri di sebelahnya, sekali-kali kamu akan mampir dan tergoda.

Lima.

Empat.

Tiga.

Dua.

Satu.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s