Foto

Evadne, atau Anya – begitu ia biasa dipanggil, sedang membereskan laci mejanya ketika menemukan foto itu.

*

“Aku tidak bisa bersamamu.”

“Kenapa?”

Perempuan itu terdiam.

“Kenapa?” ulang laki-laki di depannya. “Berikan alasan yang masuk akal dan aku akan melepasmu. Tapi ingat, aku tidak mau dibohongi.”

“Kamu…” perempuan itu terdiam. “Kamu terlalu pecemburu. Lihat aku jalan sama cowok lain aja marah. Aku nggak suka dikekang, kamu tahu itu. Dan aku tidak mau merusak masa depanku hanya dengan berduaan dengan kamu sepanjang waktu dan tidak punya teman lain.”

“Hanya itu?”

Otak Anya berputar cepat. Pertanyaan terakhir menggema di sana. Apakah masalah ini terlalu sederhana untuk jadi alasan berakhirnya sebuah hubungan istimewa? Haruskah ada kesempatan kesekian bagi Ardith untuk mengubah sifatnya? Tapi Anya sudah bosan. Bosan dengan ritual itu. Cemburu, bertengkar, baikan. Bosan juga mendengar Ardith berjanji tidak akan cemburu lagi. Ratusan kali Anya berdoa, suatu saat Ardith akan menyadari bahwa Anya tidak pernah mencintai lelaki mana pun selain Ardith, dan bahwa Ardith tidak punya alasan untuk cemburu. Tapi entah, saat yang dinanti itu, tidak tiba juga.

Akhirnya Anya mengangguk. Dengan sedikit keraguan yang terselip di hati.

Laki-laki itu terdiam sejenak. “Oke,” sahutnya. “Silakan kamu pergi. Dan aku minta maaf atas sikap cemburuku, yang membuat kamu ngerasa nggak enak, padahal menurutku adalah salah satu wujud cinta.”

Mereka sama-sama terdiam.

Laki-laki itu melanjutkan kalimatnya. “Tapi kamu akan selalu menempati tempat paling spesial di hatiku. Kamu tahu bahwa aku tidak pernah menemukan perempuan setegas dan sejujur kamu –”

“Kamu belum pernah menemukan, bukan tidak,” sela sang perempuan.

Lelaki itu mengangguk. “Tapi kurasa, akan sulit menemukan orang sepertimu, apalagi yang melebihi kamu.”

Mereka sama-sama terdiam. Saling menatap, dan mereka tahu, mata mereka masih berisyarat.

“Silakan kamu pergi, mencari teman – jika itu memang alasan utama – meniti karier, menempuh pendidikan. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi aku yakin, suatu hari nanti kita pasti bertemu lagi. Entah untuk selamanya atau tidak, aku tidak tahu.”

Sang perempuan mengangguk. “What shall happen, will happen.”

Lelaki itu mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. Lalu menyerahkannya kepada sang perempuan.

Sang perempuan menerima lembar itu dengan heran. “Untuk apa kamu kembalikan fotoku?”

“Aku tidak mau menyimpan sesuatu yang hanya akan bikin sakit hati,” jawab sang lelaki sambil nyengir. “Selain itu, karena kamulah yang pergi… aku tidak akan memintamu untuk kembali, karena aku tidak ingin kamu kembali karena terpaksa. Karena itu, jika suatu hari nanti kamu ingin kembali, serahkanlah foto itu padaku.”

Perempuan itu ternganga.

“Gampang, kan?” kata lelaki di hadapannya, masih tersenyum. “Daripada kamu susah-payah PDKT ke aku. Tinggal kasih foto, dan beres sudah. Semuanya sudah kubuat mudah untukmu.”

Sang perempuan tersenyum, mengerling, dan memasukkan foto itu ke dompetnya. “Oke.”

Lelaki itu masih menatapnya. Mungkin untuk yang terakhir kali. Menatap kerling mata yang selalu mengirimkan desir. Dadanya bergetar. Mengapa ia bisa begitu yakin mereka akan bertemu lagi? Siapa yang tahu rencana alam, siapa pula yang bisa menolak kuasa cinta?

*

Ada yang membedakan foto itu dari foto-foto lain.

Anya memang bukan maniak foto. Bukan tipe cewek yang keluar-masuk photobox, apalagi studio foto. Walaupun ia setidaknya pasti meng-update fotonya setiap dua tahun sekali. Agar fotonya tidak terlalu menipu, katanya.

Foto itu, yang sekarang ada di genggaman tangannya yang dingin, adalah foto limited edition. Itu foto ulang tahun Anya yang ketujuh belas. Tidak banyak diproduksi – lebih tepatnya, satu dengan ukuran 20R untuk dipajang di ruang keluarga, satu dengan ukuran 4R untuk dipajang di kamar tempat Anya tinggal di Singapura selama dia kuliah, dan satu dengan ukuran 4*6 untuk diberikan kepada Ardith.

Dan foto itu kini memegang kunci hubungan mereka. Selama foto itu masih berada di genggaman Anya, mereka takkan pernah lagi bersama. Bahkan mungkin takkan pernah berhubungan lagi. Sejak mereka putus tiga tahun yang lalu, Anya dan Ardith hampir tak pernah bicara. Anya kuliah di Singapura, Ardith di Swiss. Tentu penghalang utama adalah perbedaan waktu; kedua adalah kesibukan; dan ketiga, keraguan untuk memulai.

Selama tiga tahun Anya tidak pernah benar-benar melupakan Ardith. Masih kangen malah. Tetapi Anya bertekad untuk tidak lagi menjalin hubungan serius dengan laki-laki sampai dia sudah berhasil memapankan diri. Terlalu menyakitkan, apalagi waktu putus, alasannya. Teman-temannya tidak ada yang bisa memahami, mengapa jatuh cinta tampak sangat menyakitkan di mata Anya. Cinta lama masih bersemi, itu gosip yang mereka sebarkan di belakang. Anya tahu itu, dan dia tidak pernah ambil pusing. Mana mungkin cintanya kepada Ardith langsung menghilang begitu saja hanya karena perubahan status dari “pacaran” menjadi “jomblo”?

Memang Anya tidak benar-benar mengharapkan kembali pada Ardith – setidaknya sampai sekarang. Setiap kali ia merindukan Ardith, ia hanya mengubur perasaan itu dalam-dalam. Akulah yang dulu minta putus, batinnya untuk menenangkan diri. Dan memang aku menerima ganjaran yang tepat. Tak ada yang bisa kutelepon malam-malam hanya untuk mencurahkan rasa kesal, namun kebebasanku berlipat ganda. A fair trade-off. Lagipula, dari situs pertemanan yang dulu pernah dihiasi foto mereka berdua, Anya menemukan bahwa Ardith sudah pacaran lagi. Dengan sesama pelajar Indonesia yang kuliah di Swiss juga. Batin Anya tertawa, namun matanya mengucurkan segara, ketika membacanya untuk pertama kali. Lelaki memang pembohong, katanya di sela tawa yang dipaksa muncul dan tangis yang memaksa mengucur. Tapi, aku juga ingin mengucapkan selamat untukmu, karena kamu akhirnya menemukan bunga yang lebih merona daripada aku.

Dan sekarang, foto itu memaksa Anya membuka lagi lembaran kisah yang pahit-manis. Yang pernah merobek hati sekaligus mengalirkan rasa bahagia paling indah.

*

Keesokan harinya, Anya mulai bergerilya. Menelepon sana-sini, dengan kedok kangen setelah lama tak berjumpa. Mengutarakan keinginan untuk bertemu, mengajak ngobrol dengan topik acak seputar kuliah,masa SMA dulu, dan betapa Anya bosan karena sedang liburan sebulan di kampung halaman dan tidak punya kesibukan. Padahal tujuan utamanya hanya satu: mengetahui kabar Ardith tanpa perlu mengontak Ardith langsung.

Memang tidak sulit menguak berita tentang Ardith. Apalagi dengan taktik komunikasi yang dimiliki Anya. Ditambah kenyataan bahwa mereka adalah pasangan yang cukup terkenal selama di SMA. Bahkan banyak yang mengira mereka masih bersama, sebagaimana kenangan mereka akan Anya dan Ardith: a dream came true.

Dan hasil pencarian mengutarakan bahwa Ardith sudah jomblo lagi. Memutuskan pacar barunya dalam waktu kurang dari enam bulan setelah mereka resmi berpacaran, dengan alasan yang sama sekali tidak terduga: tidak bisa melupakan mantannya.

Anya termangu di kamar. Menatap langit hitam Jakarta lewat jendela. Langit hitam pekat. Tanpa bintang, tanpa bulan. Tanpa keceriaan, kecuali yang disumbangkan lampu-lampu kota.

Didi, panggilnya dalam hati. Panggilan kesayangan Anya untuk Ardith. Yang sebenarnya Ardith tidak suka, karena panggilan itu awalnya muncul dari adik balitanya yang masih cadel.

Didi, sampai kapan kamu akan menunggu?

*
Malam itu, Anya kembali sibuk. Mengacak arsip lama. Kali ini tidak di laci, tapi di komputer bututnya yang tersayang. Yang masih Pentium 4 dengan harddisk hampir penuh, dan kepayahan membuka Firefox versi terbaru.

Tak sampai sepuluh menit, Anya tersenyum puas. Arsip foto itu, ternyata masih ada di sana. Dalam format digital. Anya kemudian menyalakan koneksi internet. Mengganti isi shoutbox di sebuah situs pertemanan, di mana dia dan Ardith masih bisa saling mengintip kabar terbaru masing-masing. Di mana Ardith bisa membaca isi shoutbox tersebut tanpa perlu mendengarnya langsung dari Anya.

Sampai kapan kita mau menunggu?, tulisnya.

Lalu ia mengetikkan sebuah alamat website. Mengecek email yang masuk, lalu mengeklik Compose.

To: Ardith <ardith****@gmail.com>
Subject:
Attachment: 17thbday.jpeg

Masih dengan senyum tipis, Anya mengeklik tombol Send.

Terkirim sudah foto yang jadi masalah. Terkirim pula pesan hati Anya. Terlempar pula satu dadu pertaruhan. Kalau ia dan Ardith memang ditakdirkan bersama, Ardith akan mengerti email tanpa pesan dan shoutbox tanpa subjek itu.

Karena dua hati yang bertaut tak perlu lagi dijembatani bahasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s