Matahari

Matahari ngambek. Yang biasanya tersenyum gembira, bahkan kadang tertawa lebar, hari ini memutuskan untuk emo. Diam. Murung.

Sayangnya aksi mogok sang surya tidak berhenti sampai di situ. Dia yang biasanya suka sok main marionette dengan planet-planet, hari ini mogok pula. Dibiarkannya tali-tali melayang di ruang kosong jagad raya.

Alhasil planet-planet pun panik. Bintang-bintang juga. Biasanya mereka tinggal terima jadi, berputar sesuai keinginan matahari. Biasanya mereka sudah hafal, jam sekian mereka akan merasa dingin dan gelap, lalu di jam-jam lain mungkin hangat, atau panas terbakar. Tapi hari ini semuanya kacau balau. Terombang-ambing dalam lautan hitam, mereka tak tahu lagi sekarang jam berapa. Mereka tak tahu posisi mereka di mana. GPS tak berlaku untuk mereka. Mereka tidak tahu apakah mereka tengah melayang keluar dari batas Bima Sakti dan mungkin, kalau tak segera berbalik, bisa-bisa pulang tinggal nama. Beberapa meteoroid mulai bertabrakan. Matahari bisa mendengar gegap gempita di bumi. “Banyak bintang jatuh! Saatnya make a wish!” teriak milyaran makhluk berlabel manusia. Biasanya matahari kesal mendengar ini. Manusia nggak pernah tahu ya, rasa sakitnya tabrakan? Beraninya tertawa di atas penderitaan orang! Tapi kali ini dia cuma diam. Terlalu emo untuk berkomentar.

Para penghuni angkasa yang kebetulan terlempar dekat matahari, susah payah mendekat. Pura-pura berani, padahal di dalam mengulang-ulang himne “Mati aku. Mati aku.” Siapa yang tak takut, siapa yang tak khawatir, mendekati penguasa semesta tanpa permisi? Dengan mood baik saja, matahari bisa bikin keringatan lewat tawanya. Sekarang dia ngambek, bisa-bisa yang lain hangus hancur sebelum sempat merasa sakitnya luka bakar.

“Mat,” panggil mereka. “Lo kenapa?”

Matahari cuma geleng-geleng kepala. Yang lain ingin rasanya mundur sedikit, takut terkena kibasan korona yang panasnya amit-amit.

“Kalo gak kenapa-kenapa jangan ngambek dong!” serempak semua melotot ke arah datangnya suara. Minta dimarahin. Jaga perasaan matahari euy! Ini bukan waktunya bercanda!

Matahari masih bergeming. Semua ikut hening. Setelah satu hembusan napas, dia baru mau angkat bicara.

“Aku bosan,” katanya pelan. “Setiap hari harus aku yang bekerja demi kelangsungan hidup kalian. Aku yang harus sibuk mengatur perputaran dan jarak agar kalian tidak tabrakan. Aku yang harus repot menarik dan mengulur. Sementara kalian? Tinggal berjalan di lajur sendiri-sendiri. Dan kalian tak pernah peduli padaku.

“Pernahkah kalian peduli pada rasa lelahku? Pernahkah kalian kasihan pada kesepianku? Kalian masih bisa ngobrol sambil berevolusi. Aku? Sedikit saja berekspresi, kalian sudah memicingkan mata silau, menjauh takut kepanasan. Aku ini repot sendiri, dan hasilnya cuma dari jauh kuamati.”

Tak ada tanggapan. Semua sibuk merangkai kata. Tapi tak ada yang berani menggetar pita suara.

Dalam diam matahari mengamati. Ia tahu ia dibutuhkan. Namun ia ingin dicintai. Ia ingin mereka menginginkan dia ada, bukan semata demi gravitasi dan terang. Dan sekarang, ditodong begini, masih tak ada yang berujar apa-apa. Hatinya mulai bergemuruh. Mungkin memang tak ada cinta untuknya. Mungkin sudah saatnya menutup hati. Cukup jadi robot penyeimbang Bima Sakti.

Matahari mengumpulkan tali-tali yang kusut dan mulai mengurainya. Satu helaan napas dan ia mulai bermain gravitasi. Planet-planet berputar, alam semesta indah. Cukup indah tanpa cintanya.

Tapi ada yang berubah. Mereka kini mengajaknya bicara tiap kali posisi mereka cukup dekat. Matahari bukan lagi pengamat, namun kini jadi bagian. Mungkin belum dicintai, mungkin cuma basa-basi, tapi mungkin suatu hari akan jadi lebih baik…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s