Pakta

Siang ini Otak dan Hati memasang tulisan besar-besar “TUTUP” di depan pintu. Mereka ada janji. Bertemu empat mata. Mau bikin pakta persetujuan.

“Kenapa kamu nggak pernah setuju denganku?” tanya Hati, ketika rapat resmi dibuka, ditandai dengan datangnya dua cangkir kopi.

“Karena kamu nonsens.”

“Aku memang bukan pemikir seperti kamu.”

“Dan itu nggak penting. Kamu terlalu banyak memberi harapan kosong.”

“Tapi kamu terlalu pesimis. Kapan mau maju kalau belum-belum sudah ragu?”

“Untuk apa maju kalau potensi berhasil nggak sampai lima puluh persen? Mending simpan tenaga untuk perjuangan yang lebih tidak sia-sia.”

“Kalau ternyata perhitunganmu salah?”

“Kalau ternyata benar?”

“Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi-”

“Memangnya kamu tahu?”

“Tidak.”

“Lalu apa dasarmu untuk terus maju bahkan ketika kamu tau kansmu tak seberapa? Memangnya kamu tahu di masa depan probabilitasmu akan naik?”

Keduanya diam. Pertanyaan barusan tak perlu jawaban. Dan Hati tak pernah punya alasan. Apalagi yang cukup valid untuk memenuhi standar Otak. Ia cuma bertindak atas dasar naluri. Ia tak peduli apa hasilnya. Harus mati pun dia rela, asal ia sudah maju perang. Ia tak pernah merasa rugi memberi.

Sementara Otak, tampaknya ditakdirkan jadi antidot. Hati diam-diam suka curiga, Otak punya hubungan gelap dengan Statistik. Hampir tak ada yang tak dihitung rinci oleh Otak. Ia berpikir jauh ke depan. Seperti pemain catur yang demi memutuskan satu langkah, harus memikirkan kemungkinan untuk setidaknya lima langkah ke depan. Sampai bikin kewalahan Memori, yang harus menyimpan daftar kemungkinan plus penghitungan untung rugi.

“Lalu sebenarnya kita ke sini mau apa?” Otak mulai tak sabar.

“Bikin pakta perjanjian.”

“Untuk?”

“Berdamai.”

“Demi apa perdamaian ini?”

“Demi kedamaian dunia seseorang yang kita hidupi. Demi menghapus air matanya yang terbuang sia-sia tiap menyaksikan kita bertengkar. Mungkin, seperti katamu tadi, air mata itu lebih berguna untuk hal-hal yang lain. Untuk seseorang yang lain. Bukan untuk pertengkaran konstan kita.”

Otak geleng-geleng frustasi. “Mustahil. Aku nggak akan pernah setuju denganmu.”

“Aku tidak minta kamu setuju. Aku cuma minta kamu tidak selalu menyuarakan keberatan tiap kali aku angkat bicara.”

“Jadi intinya kamu minta aku diam.”

“Benar.”

“Apa bedanya aku diam atau tidak?”

“Kalau kamu diam, aku pun tidak akan memperpanjang pembicaraan. Kita bebas dari perselisihan. Dan kita bisa membicarakan topik lain yang menimbulkan lebih sedikit friksi. Atau mungkin membahas topik yang lebih berguna untuk menjadikan mimpinya nyata.”

“Tapi itu berarti aku tidak berusaha membuat keadaan jadi lebih baik. Aku tidak berusaha menyadarkan dia.”

“Kalaupun dia sadar, kalau aku masih terluka dan belum tumbuh sel-sel baru untuk mengganti bagian yang hilang itu, dia tidak akan menjadi lebih baik. Dan konfrontasimu tidak memperbaiki keadaan. Cuma membuatku semakin tersiksa.

“Kamu tak perlu selalu membuyarkan mimpinya dengan mengatakan itu tidak mungkin jadi kenyataan. Toh kamu juga tidak bisa menyediakan transplan untuk mengganti bagianku yang hilang. Fakta bahwa perasaan itu masih ada juga tidak lantas berubah menjadi kebohongan hanya karena kamu bilang itu cuma mimpi. Faktanya, dia jatuh cinta. Faktanya, sebagian diriku hilang ia hibahkan ke seseorang. Itu fakta. Yang kamu utarakan selama ini cuma bisa mencegah dia membabi-buta, tapi tak pernah menghilangkan jejak cintanya.

“Sementara yang kamu presentasikan kepada dia hanyalah opini. Cuma persentase dan analisismu sendiri. Bukan fakta. Kamu, kita, tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Apakah mimpinya tadi malam cuma bunga tidur, ataukah itu pertanda, kamu tak tahu. Aku juga tak tahu. Kalau dia perlu bantuan menyusun taktik cinta, silahkan kalian diskusi sendiri. Kamu tahu aku diciptakan dengan satu kelemahan: aku tak bisa berbohong. Aku didesain untuk mendadak bisu kalau diminta opini. Aku cuma bisa menyuarakan fakta. Dan aku tahu kamu cukup pandai, untuk tahu fakta itu benar, juga untuk tahu bahwa kebenaran tidak seharusnya disangkal oleh apapun.”

Hening lagi.

“Jadi?”

Otak mengangkat bahu. “Aku tak punya alasan untuk menolak.”

Keduanya berdiri. Saling memandang, berjabat tangan, dan kembali ke kantor masing-masing. Mencabut pengumuman “TUTUP”. Hati kembali menerima konseling, Otak kembali sibuk dengan kalkulator.

Tapi hidup sang manusia jadi lebih tenang sejak siang itu. Karena kini ia mampu jujur pada dirinya sendiri. Tanpa perlu mengelak dan pura-pura.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s