Menunggu

Menunggumu. Di antara serpihan waktu yang mendebu. Di tengah badai rindu yang hampir saja merenggut hatiku dari kediamannya. Dan kamu tidak datang, bahkan setelah semuanya berlalu. Kamu tetap menjadi sebuah angan yang tidak terlihat akan pernah jadi nyata. Kamu cuma salah satu bagian dari sejarah luka yang menandai perputaran waktu, sebagai monumen peringatan kekejaman cinta. Monumen yang takkan pernah diziarahi apalagi disembahyangi, karena menoleh padanya pun tak seorang akan berani: tak berani bertanya pada hatinya sendiri, mengapa mereka menyerahkan diri sukarela pada sakit tanpa obat dengan nama manis “cinta”.

Dan hingga tulisan ini selesai, kamu tetap tidak datang. Aku paham, ini waktunya menarik diri. Walaupun bahkan menghapus namamu dari setiap daftar kontak media komunikasi, sama sekali tidak membantu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s