Seduh

Kamu menyeduh kesepian dengan secangkir harapan, dan sebelum aku sadar, satu malam panjang bermula.

Aku bertanya, kenapa harus kamu kotori harapanmu dengan sepi, yang cuma bikin resah hati? Kamu bilang kamu tak punya pilihan. Harapanmu terpaksa berhenti di satu jalan buntu, dan bagaimana mungkin kesepian tak ikut dalam pasukan huru-hara hati?

Kesepianmu meronta dalam dekapan harapan. Kamu mencoba mengaduknya lagi. Tapi ini bukan sekantong teh celup dan air panas. Ini lebih mirip minyak dan air dingin. Betapa hebat pun kamu berusaha melarutkan kesepianmu dalam harapan, tak lama setelah kamu berhenti mengaduk, ia  akan kembali mengapung di permukaan. Mula-mula sebagai segerombol partikel acak, namun lama-lama menyatu dan cuma keruh kesepianlah yang nampak pada matamu. Mengelabui seluruh harapan yang ada.

Tak ada yang bersuara, kecuali sendokmu yang beradu dengan sisi cangkir. Aku menatapmu iba. Ingin kureguk cangkir itu, ingin kuhabisi sakitmu. Ingin kulihat kamu sekali lagi terbang tinggi, ke langkit ketujuh atau kesembilan atau kesepuluh. Tapi cawan kita tak sama. Cangkirmu, cangkirku, berbeda rupa. Kuambil cangkir dari genggamanmu, dan kucoba menuangkan isinya ke dalam cangkirku, tapi yang ada justru segenang tumpahan air di atas meja makan. Ternyata aku tak mampu.

Kamu tertawa kecil. “Mungkin harusnya kamu kurangi dulu isi cangkirmu…”

Kalau saja mampu kuucap, aku ingin membaginya denganmu. Tapi kalimat itu tak pernah berhasil lolos dari pita suara menjadi getaran bunyi. Yang ada justru tanganku bergerak, mendorong balik cangkirmu.

“Kamu benar,” ucapku pelan.

Kamu terperangah.

“Sekarang isi cangkirmu sudah berkurang, kan?”

Kamu menatap cangkirmu yang kini lima per enam penuh, dan tumpahannya di sekeliling cangkirku.

“Sekarang kamu bisa berbagi…”

Kamu mengernyitkan dahi.

“Kamu sendiri yang bilang, kan? Mungkin harus kamu kurangi dulu isi cangkirmu. Sama halnya dengan kamu. Buang dulu sebagian mimpimu, baru kamu bisa membuka dirimu bagi seseorang, berbagi mimpi dengan dia. Meskipun cawan kalian tak sama, mimpi kalian tak sama, luka kalian tak sama. Kalau tidak ada yang berani mengorbankan isi cangkirnya barang setitik, kalian takkan pernah punya ruang untuk berbagi…”

Aku beranjak dengan cangkirku menuju dapur, lalu kutuang isinya ke dalam bak cuci. Sejenak batinku berkecamuk. Aku bisa kembali ke meja makan, menaruh cangkir kosong itu di hadapanmu. Mengisyaratkan kesiapanku berbagi, kemauanku membangun ulang mimpi bersama kamu. Menunjukkan bahwa sebenarnya kamu punya pilihan yang ada di depan mata, walau kamu tak pernah tahu…

dan mungkin tak akan pernah tahu. Tanganku memilih bersekutu dengan pikir, dan tahu-tahu cangkir itu sudah bertengger di rak pengering.

Kupejamkan mata. Mungkin “kita” memang tak akan pernah mengacu pada aku dan kamu.

Aku kembali ke meja makan. Kuberanikan diri menggenggam tanganmu, yang tengah memeluk cangkir.

“Semoga kamu cepat menemukan seseorang yang mau berbagi dengan kamu… dan yang membuatmu mau mengosongkan cangkir demi dia,” aku menelan ludah. Sebuah batu yang memberati lidah, bergulir sudah. Semoga kamu bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s