Harap

Separuh jiwamu dilarikan mimpi, satu-satunya ekstasi ketika rindumu berhasil menjebol pertahanan hati. Separuh sisanya tertinggal di sini, sekedar menghidupi ragamu yang sendiri.

Tak ada yang berusaha mengembalikan kesadaranmu. Karena toh kamu sama tidak bahagianya, entah berpijak pada kenyataan atau melayang di atas angan-angan. Lagipula mereka sudah bosan mendengar jawabanmu yang itu-itu saja atas pertanyaan mereka yang, sebenarnya, juga cuma itu saja. Seringkali kamu geli sendiri, bagaimana mungkin mereka meminta jawaban macam-macam untuk sebuah pertanyaan yang para ahli pun tak mampu menyelidiki?

Tanpa suara, kamu mengulang pertanyaan itu dalam hati. Mencoba mempersiapkan jawaban yang cukup spektakuler untuk membungkam mereka. Supaya kamu tak perlu ditanya-tanya lagi. Toh pertanyaannya sederhana: mengapa kamu masih mengharapkan dia?

Kamu mereka-reka berbagai jawaban seperti seorang yang tengah hendak membeli baju di toko. Mencari satu jawaban yang pas, untuk mengemas isi hatimu secara anggun tapi tetap apa adanya. Tanpa membuatmu terlihat kekanak-kanakan, labil, angkuh, ataupun berduka.

Kamu ingin menjawab, “Kenapa tidak?” tapi kamu tahu, yang mereka butuhkan adalah kalimat yang berakhir pada sebuah titik. Tanpa tambahan garis lengkung di atasnya – satu lengkungan yang sama tidak jelasnya dengan ketidakjelasan yang akan ia timbulkan.

Kamu ingin menjawab, “Tidak tahu,” tapi kamu tahu jawaban ini tidak memuaskan. Mereka butuh minimal satu kalimat, atau mungkin serangkai kalau stokmu cukup. Bukan cuma sebuah kata atau frase. Meskipun “tidak tahu” adalah jawaban paling jujur yang bisa kamu berikan.

Yang kamu tahu cuma, kamu tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Hatimu mencair setelah ratusan malam di dunia maya, ribuan jam interaksi dan kata-kata. Tak ada yang istimewa, ya? Kamu yakin menceritakan asal-muasal cintamu justru membuat mereka semakin getol bertanya “mengapa”.

Pernah sekali kamu bergurau, “Cintaku ia panah, ia tangkap, lalu ia bawa lari. Sudah sewajarnya kan kalau sekarang dia kukejar demi mendapatkan cintaku kembali?” tapi lagi-lagi mereka menyanggahmu. Mereka bilang butuh jawaban serius, bukan cuma gurauan.

Sekali lagi kamu tiba di jalan buntu yang sama. Demi Tuhan, sungguh kamu tak punya jawaban. Satu-satunya yang bisa kamu kambinghitamkan hanya harapan: sebuah biji yang mati, diam, tapi pelan-pelan bertunas ketika ia naik jabatan menjadi lebih dari sekedar teman. Harapan, yang kamu sirami dengan cinta, kamu pupuk dengan usaha, dan kamu hujani dengan juntaian doa. Yang tahu-tahu sudah menjulang tinggi membelah angkasa, dengan akar-akar yang kuat mencengkeram inti hatimu.

Sekarang begitu saja mereka ingin kamu menebangnya: masuk akalkah untuk dilakukan? Sekalipun mereka mampu menebang ranting atau batang harapanmu, akarnya takkan dapat mereka cabut tanpa melukai hatimu. Dan ketika yang menjadi akar harapanmu adalah dia sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang sanggup kamu terima, bagaimana mungkin mereka akan mencabutnya? Mampukah mereka melenyapkan dia, agar pelan-pelan kamu pun lupa menyirami harapanmu, sementara akar-akar pun mulai kering, dan akhirnya harapan itu mati?

Sekali waktu mereka bertanya, mengapa kamu tidak bangun saja sebuah harapan baru. Harapan yang lebih punya kesempatan untuk meloloskan diri jadi kenyataan. Dalam hati kamu meringis: betapa kamu juga ingin, kalau saja bisa. Sayangnya hatimu tak selapang dan segembur itu untuk ditumbuhi terlalu banyak harapan.

Kamu bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal pada sebuah tanggal yang sebentar lagi berlalu. Di sisa-sisa hari, di penghujung hati, jawaban yang kamu cari belum juga ketemu. Mungkin takkan pernah. Mungkin, seperti yang hatimu percaya dan otakmu gemaskan, cintamu tak butuh alasan. Dan cintamu bukan sebuah pengorbanan.

Cuma sebuah keihklasan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s