Kamu

Kamu adalah ulam yang tak kunjung tiba dari sebuah pucuk yang dicita. Kamu tak juga datang bahkan ketika rindu menyengat dan cinta ini membengkak sampai hati sesak. Kamu tak pernah datang, titik. Dan ini pertama kalinya aku tulis kalimat barusan tanpa kata “mungkin” untuk menengahi “tak” dan “pernah”, setelah sekian lama aku diam-diam menyelundupkan harapan ke sudut hati.

Tujuh belas aku merakit cinta untuk sampai kepadamu, tapi selalu saja sungai hidup memaksaku berbalik ke tepian. Aku tak pernah paham kenapa, tapi aku terlalu egois untuk bertanya. Karena toh aku takkan mau menerima jawabannya. Mungkin juga aku takut untuk tahu bahwa kita tidak untuk bersatu. Kalau ini film animasi, mungkin akan kugambarkan hatiku sebagai negeri yang diinvasi oleh pasukan gerilya di bawah pemimpin bernama Asa. Walaupun ia sendiri sudah terpenjara oleh kenyataan, divonis mati oleh logika.

Kamu adalah bulan yang tak ke mana-mana, selalu berjarak segitu-segitu saja terhadap bumi, setia menemani lewat pasang surut hari. Tapi tetap saja aku terlalu pungguk untuk meraihmu. Walaupun setelah melihatmu tamat-tamat, aku tak mempermasalahkan cekung dan cembungmu yang biasa tersembunyi oleh kilau keemasan. Ternyata cinta tidak cukup, Sayang. Cintaku tidak mampu menegakkan punggukku, memanjangkan tanganku. Yang bisa kuperangkap hanya pantulanmu, yang bisa dipeluk hatiku cuma bayangmu. Jarakku denganmu tetap sama,
tetap segitu-segitu saja,
tetap sejauh bumi melangit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s