Nama

Kamu adalah nama yang ditulis awan ketika aku permisi ke langit untuk menitipkan rinduku pada angin.

Kamu adalah nama yang dieja jemari ketika tenggang waktu dari interaksi terakhir kita merangkak naik dan aku cemas. Adakah kamu baik-baik saja? Adakah seorang lain yang punya akses lebih ke hidupmu?

Kamu adalah nama yang kutulis dengan jantung berdebar, antara sayang, ingin, dan nelangsa.

Kamu adalah nama yang harus disingkat jadi inisial saat ditorehkan di buku harian. Nama lengkapmu terlalu menakutkan untuk dilihat kasat mata. Dibaca mata hati saja sudah bikin panas dingin gemetaran, apalagi dengan mata kepala. Lagipula menulis inisial saja seperti mengeja mantra sakral. Pakai acara pejam mata dan kadang tetesan di pipi. Pena dan pensil mendadak berat ketika hendak mengejamu, mungkin karena dalam secuplik huruf itu kutumpahkan terlalu banyak rasa.

Kamu adalah nama yang terukir di hati, tercetak dalam dan tebal setelah tahunan tertambal sulam. Kamu adalah seorang yang dicinta diam-diam, dicita dalam tiap sumbu bisu yang kunyalakan di gereja. Kamu, satu nama yang tak pernah sadari cintaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s