Pagi, Siang, Malam

Pada kedipan mata pertama tiap pagi, aku refleks menutupnya kembali. Takut-takut aku mengharap ke surga, bolehkah hari ini aku punya kesempatan berdua denganmu? Entah lewat sarana apapun. Walau cuma satu kata. Tapi yang dari kamu. Bukan aku yang memulai karena tak mampu menahan kangen.

Aku iri pada terik siang yang tak bernoda. Kenapa cintaku membutakan, bukannya menerangi? Aku buta dari dunia, kamu buta akan cintaku. Tak ada yang mampu memalingkan hatiku ke cinta yang lain, tak ada pula yang membuatmu menoleh ke sini.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun, malam jadi tempat sampah dan serapah. Tempatku berubah jadi anak ingusan yang cuma bisa merengek-rengek tanpa henti ketika minta sesuatu. Malam selalu memaksaku melihat, bahwa satu hari ini berlalu tanpa kamu dan kamu tak merasa kurang dengan itu. Kamu baik-baik saja tanpaku. Sedang di ujung sini aku sendu sendiri.

Dulu kupikir tidur adalah jalan keluar. Tempat aku melewatkan waktu tanpa sadar dan ingin akan kamu. Salah besar. Kamu tidak pernah absen dari mimpi, dan kamu selalu memberi harap. Kenapa, Sayang? Kalau kamu toh tidak ada di hari-hariku, kenapa kamu harus datang di mimpi? Kenapa harus begitu cantik cerita kamu alurkan? Kenapa harus membuatku bangun dengan harapan bahwa mungkin, mungkin di satu hari ini kamu tiba-tiba merindu dan menginginkanku? Kenapa?

Aku masih mencintai kamu, di pagi, lewat siang, hingga malam. Dan masih mengharapkanmu, di tiap detik yang memaksa masuk di antaranya.

Iklan

One thought on “Pagi, Siang, Malam

  1. Ping balik: Pagi, Siang, Malam (via Agar Kamu Tahu) « Perempuanini's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s