Supernova

Akulah Supernova, yang menuliskan cerita cinta Ksatria.

Yang tersedu lebih pilu ketika ia tersungkur, terbahak lebih keras ketika ia bahagia.

Yang terseret jatuh ketika ia menggali jurang, terlesat tinggi saat ia terbang.

Akulah Supernova, pengamat diam-diam dari balik tirai tipis jendela seberang rumah.

Yang mencinta lebih dalam dibanding Puteri manapun yang ia tahu.

Akulah Supernova, yang akan membisikkan hati Ksatria tepat ke gendang telinganya, saat ia buta oleh silau cinta.

Akulah Supernova, pantulan dari pendar jiwa, bulan dari matahari Ksatria. Saling menarik tanpa memagnet, beriring tanpa menggiring, saling isi tanpa mengintervensi.

Akulah Supernova, Puteri Eros yang ditempa sejak dini, untuk mencinta tanpa hilang akal. Untuk terbang tanpa lupa menjejak bumi.

Akulah Supernova, buronan semesta karena menolak masuk penjara yang dibangun atas fondasi cinta.

Akulah Supernova, cermin terjernih Ksatria. Yang lebur bersamanya dalam bilur cinta.

Memahami tanpa bunyi nyaring. Merasa tanpa perlu menyentuh. Mengerti tanpa harus mengernyit.

Berbicara tanpa bahasa. Satu senyum, satu angguk, satu tatap, lebih dari segala makna di balik frasa “aku tahu”.

Akulah Supernova, yang mencinta lebih dari yang kutahu. Yang kaucinta jauh sebelum jasadmu bertemu jasadku.

Akulah Supernova. Kamu, cintaku, Ksatria.

(parafrase/saduran lepas dari Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s