Tidur

Semalam angin mengetuk daun jendelaku,
“Aku hendak pergi ke arah kediamannya, adakah kau ingin menitip rindu?”

Terbersit ragu di hatiku.
Waktu telah beranjak dari tengah malam, dan biasanya jam segini kamu sudah lelap,
entah sendiri, entah ditemani mimpi.

Angin mengetuk kedua kali,
“Cepat,” desaknya, “Aku harus segera pergi!”

Aku menatapnya ragu,

lalu menggeleng, ditemani senyum samar.

“Harusnya saat ini dia sudah tertidur, Angin,
dan aku tak tega membangunkannya.
Wajah tidur itu – mata yang terpejam,
rambut yang tersibak miring
dan bibir yang setengah mengaga – ah,
kamu takkan tahu, Angin, karena kamu cuma bisa mengintipnya dari jendela yang terusik kerai
sedang aku pernah menikmatinya berkilas-kilas;
walau mungkin takkan pernah kudapat lagi kesempatan serupa.

“Kalau boleh aku ingin pesan satu hal:
boleh malam ini kaulewatkan kamarnya?
Aku tak ingin badai muncul di mimpinya
karena kejut gemuruh yang berkunjung.
Tak usah kau khawatir, tidurnya akan tetap damai
mimpinya akan tetap cantik
tanpa rinduku.”

Angin meniup pergi saput di pelupuk
tapi lima milimeter kaca menghalanginya.
Aku mengangguk kecil, tanda terima kasih,

lalu melepasnya pergi.

Memejamkan mata,
“Tidurlah nyenyak, Sayang…”

Iklan

2 thoughts on “Tidur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s