Rindu

Rinduku nekat mendaki puncak cinta, dan kini ia terkatung di ujung tanduk
inginkanmu tahu,
cerita usang yang sebentar lagi digudangkan.

Aku menyanggahnya,
“Relakan, Rindu, relakan,
dia tak patut dibebani dengan rasa yang tak ingin ia kecap
Omong kosong, persetan tentang kejujuran
tetap aku akan naif di sini, memunguti bayangnya untuk kukagumi.”

Angin menampar, mentari tertawa lebar, aku mengangkat bahu
nyaring cintaku, taring bagi hatiku, tetap aku padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s