Gaun Ungu

Malam ini kamu sungguh mempesona dalam balutan gaun ungu. Sama seperti malam itu.

Gaun ini cuma kamu keluarkan dari lemari setahun sekali, atau mungkin dua kali, tapi tak pernah gagal membuatku lupa berkedip. Teman-temanku suka bilang ungu adalah warna janda, tapi aku tak percaya. Mitos dari mana itu? Yang aku tahu, ungu adalah lambang kebesaran; saat pewarna pakaian masih alami, ungu adalah warna paling mahal yang cuma bisa dibeli kalangan ternama. Saat pewarna sintetis beredar dan ungu bisa diproduksi masal, yang aku tahu justru warna ini melambangkan romantisme dan feminisme. Lagipula kisah cintamu jelas jauh lebih brilian dari istilah ‘janda’, sebuah kata yang bobotnya timpang ke arah kesedihan daripada kebahagiaan.

Sehari sebelum malam itu, kamu bercerita bahwa kamu bingung memilih baju untuk dipakai ke acara tahunan mahasiswa seangkatan. Kamu ceritakan kisah tentang gaun favoritmu, yang rusak gara-gara tak sengaja kamu masukkan mesin pengering baju. Kamu ceritakan minimnya koleksi baju pestamu, sampai kamu harus merunut ulang isi lemari untuk menemukan baju yang cukup pantas dipakai ke sebuah acara tahunan. Kamu tanyakan pendapatku tentang beberapa baju yang pernah kamu pakai ketika kita bertemu. Kamu ceritakan padaku tentang tren, tentang padu padan dari potongan-potongan baju yang kamu punya. Jujur aku tak mengerti. Layar komputerku tak lepas dari Google, demi memahami satu-persatu istilah fesyen yang kamu sebutkan. Namun terlepas dari kurangnya pengetahuanku, dari jawabanku yang kebanyakan cuma “ooo”, “terus?”, dan “hahaha”, aku bahagia. Aku merasa menjadi bagian darimu. Aku merasa punya kedudukan sedikit lebih dibanding teman-temanmu yang lain, hingga kamu melibatkanku dalam mengambil keputusan. Walaupun cuma masalah baju.

Malam itu kamu muncul dengan gaun ungu, rambut panjang yang tergerai ikal, dan sepatu hak tinggi yang membuat jalanmu makin lentik. Tak jauh beda dengan malam ini. Tatanan rambutmu sedikit berbeda, aku tak tahu bagaimana menamainya – kamu ikat menjadi satu cepol di belakang, menyisakan beberapa helai terjuntai bebas di depan telinga. Sepatumu, aku tak yakin; berwarna hitam dengan hak yang juga cukup tinggi, tapi aku tak ingat apakah persis sama dengan malam itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya kita berdansa. Malam ini, kamu datang bergandengan tangan dengan seorang pria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s