Rewriting History: Jaka Tarub

Jaka Tarub tidak pernah berniat mencuri selendang itu. Dia cuma tidak tahu selendang itu satu-satunya jalan pulang Nawang Wulan ke kahyangan.

Selendang itu bertahtakan permata berbagai warna, tersangkut pada sebuah batu di tepi telaga. Refleks Jaka Tarub membawanya pergi. Siapa di dunia ini yang bakal menolak rezeki? Di bayangannya, gubuk hampir rubuh tempat ia tinggal sebentar lagi bermutasi jadi rumah layak huni. Utang beras pada tetangga kemarin sore akan terbayar lunas, plus beberapa karung akan ia hadiahkan sebagai balas budi. Sawah ladang yang tak terurus bisa ia suburkan lagi, sekarang lewat keringat orang upahan. Kembang desa sebelah, putri bungsu sang tetua desa, akan ia pinang secepatnya. Tak mungkin sang Ki Ageng menolak putrinya menikah dengan pemuda kaya-raya. Dengan demikian akan bahagialah simbok yang kini ada di surga, yang sedari dulu cemas karena Jaka Tarub tak beristri juga.

Tapi niatnya terhenti, ketika sepulangnya berburu, ia mendengar isak tangis dari balik batu yang sama. Dari seorang perempuan yang parasnya membuat kilau berlian di selendang tadi, tak ada apa-apanya.

“Raden Ajeng, apa yang kamu tangisi?”

“Selendang saya hilang, dan saya tak bisa pulang ke kahyangan.”

Jaka Tarub mendadak lemas. Tak mampu ia berkata-kata. Terjawab sudah setiap pertanyaan yang sedari tadi menghantui: bagaimana mungkin ada secarik kain sedemikian mewah di tengah rimba; mengapa kain seberharga itu tergeletak di atas batu. Terjawab juga suara hatinya yang dari tadi bimbang: kamu yakin kain itu boleh kamu ambil begitu saja?

Namun sekarang semuanya sudah kepalang basah. Tak mungkin mengakui bahwa ia yang mencuri. Bisa fatal akibatnya. Mencuri properti kahyangan! Hukuman macam apa yang akan para dewata jatuhkan? Duh Gusti, harus bagaimana ini…

“Kanjeng Gusti, tolong saya. Saya tak bisa ke mana-mana, dan saya sebatang kara di bumi. Jadikan saya istri Kanjeng.”

Hukuman dari kahyangan. Terbungkus manis dalam wujud seorang bidadari.

Jaka Tarub semakin lemas. Suara-suara mulai berperang dalam pikirannya. Perempuan ini memang jauh lebih cantik dari putri bungsu Ki Ageng. Simbok pasti bahagia dua kali lipat di atas sana. Pemuda satu kampung, satu kota, mungkin satu keraton, akan iri padanya. Tapi serangkaian rencana yang telah ia susun tadi harus runtuh satu-persatu. Batu-batu mahal di selendang tadi takkan pernah sampai di tangan penadah. Selendang itu akan harus ia sembunyikan, entah di petak ladang sebelah mana. Sontoloyo, jangan ingatkan aku pada ladang! gertaknya pada benaknya sendiri. Bagaimana aku akan menghidupi seorang istri sementara membujang saja aku masih begini?

“Kanjeng Gusti…”

Kecantikannya menaklukkan segala tanya.

*

Selendang itu tidak jadi dikubur di ladang. Jaka Tarub tak cukup murah hati untuk memberi makan cacing dan rayap dengan kain seharga seorang bidadari. Ditaruhnya kain itu di dasar lumbung padi, lalu dipenuhinya lumbung itu dengan sekarung beras pinjaman dari tetangga. Semoga aku selalu ingat untuk mengisi penuh lumbung ini, batinnya.

Ladangnya yang penuh belukar kini tertata rapi. Petak-petak padi menguning pelan seiring dengan menyebarnya berita tentang Nawang Wulan ke penjuru desa. Bermacam-macam berita telah sampai ke telinga Jaka Tarub. Ada kabar yang bilang Jaka Tarub pastilah keturunan brahmana dengan tapa brata yang kuat. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa memikat seorang wanita nan jelita? Ada lagi yang bilang, jangan-jangan kematian simbok adalah tumbal agar Jaka Tarub cepat memperoleh jodoh. Sungguh kabar yang membuatnya mengelus dada. Ada lagi versi yang menyeret nama dukun terkenal desa itu, yang padahal sudah menolak mentah-mentah setiap lelaki yang datang konsultasi demi “mendapat istri secantik istrinya Jaka Tarub”.

Padahal kalau boleh memilih, Jaka Tarub kangen tinggal berdua dengan simbok seperti dulu. Saat sebelum dia berburu ke hutan dan bertemu selendang tak bertuan. Sekarang hidupnya sungguh membingungkan. Sekarung beras yang ia pinjam ke tetangga bahkan belum habis setengah. Padahal beras itu dipinjam saat ladangnya masih belukar, dan kini padi hampir siap dituai. Dia yakin setiap hari ia makan nasi dengan jumlah yang sama, tak berkurang, sejak sebelum Hari Selendang Bermasalah sampai sekarang. Mungkin karena selendang itu ada di dalam lumbung padi, pikirnya. Mungkin selendang itu memiliki kekuatan gaib sehingga persediaan berasnya tak pernah berkurang. Terbersit sedikit rasa lega di hatinya, berarti kain itu akan tetap terkubur di dasar lumbung. Asalkan sang istri tak curiga dengan beras yang tak ada habisnya, lalu mengurai habis isi lumbung dan menemukan selendang itu… Stop. Stop. Semua hal adalah mungkin dan rahasia adalah nonsens ketika berurusan dengan anggota geng Sang Hyang Widhi. Memikirkan semua skenario hanya akan menambah beban diri sendiri.

Tetapi sementara otaknya sibuk menyusun strategi untuk menyembunyikan selendang itu, hatinya justru berkata sebaliknya. Jaka Tarub tahu Nawang Wulan tak bahagia di bumi. Jaka Tarub dapat mendengar, di sela dengkuran yang kadang ia buat-buat, Nawang Wulan terbaring sambil terisak kecil di sebelahnya. Pernah ia coba berpura-pura, bertanya mengapa istrinya menangis. Tapi setiap gelengan “tidak apa-apa” dan jemari yang gelagapan menghapus air mata, menghantam hatinya dengan sakit yang tak terucapkan. Jaka Tarub mencintai Nawang Wulan dengan segenap jiwanya, tapi ia tak mampu membuatnya bahagia. Kejujurannya akan menjadi sumbat bendungan air mata sang bidadari, dan hatinya pun sudah lelah berdusta; tapi ia sungguh tak rela, ia sungguh tak sanggup, kalau kejujuran yang sama akan merenggut Nawang Wulan dari sisinya.

Hukuman dari kahyangan. Pasti mereka sedang terbahak-bahak di atas sana, menyaksikanku dibelit cinta dan dusta.

*

Pagi itu Nawang Wulan pamit. Ke pasar, katanya.

“Kalau saya belum pulang dan nasinya sudah matang, tolong Mas yang angkat, ya?”

Jaka Tarub mengangguk.

“Tapi ingat, jangan dibuka sebelum matang. Diintip juga jangan.”

“Mengapa begitu, Wulan? Saya ‘kan tidak pandai memasak seperti kamu. Kalau nanti nasinya kematangan bagaimana?”

“Tunggu saja sampai periuknya berbunyi, baru Mas angkat nasinya. Pasti sudah matang sempurna. Selama belum berbunyi, biarkan saja.”

Nawang Wulan mencium tangan Jaka Tarub. “Saya akan segera kembali,” pamitnya sambil bergegas.

Matahari merangkak naik, tapi Nawang Wulan belum pulang juga. Bukannya periuk yang berbunyi, justru perut Jaka Tarub yang sedari tadi minta diisi. Harusnya jam segini mulai bekerja ke ladang. Tapi saat ini dia bahkan belum makan pagi. Kalau dia kesiangan ke ladang, bagaimana nasib pepohonan yang harus ia sirami?

Riuh-rendah kicau burung pelan-pelan menghilang. Jaka Tarub semakin cemas. Pandangannya tak lepas dari periuk nasi yang dari tadi membisu. Ia pusatkan perhatiannya untuk menangkap segala suara, tapi yang ia dengar dari tadi cuma kerak arang dan letupan api.

Dilihatnya burung terakhir terbang dari ranting pohon mangga.

Ragu-ragu, Jaka Tarub meraih tutup periuk. Digesernya sedikit. Kepulan asap berlomba keluar dari dalam periuk, tapi tak tercium bau nasi tanak. Ditutupnya lagi periuk itu. Mungkin nasinya memang belum matang. Tapi tak biasanya menanak nasi butuh waktu sedemikian lama. Lagipula kalau setengah matang begini, harusnya wangi nasi juga sudah mulai tercium.

Digesernya lagi tutup periuk, lalu ia dekatkan hidung ke kepulan asap. Masih tak tercium apa-apa. Penasaran, Jaka Tarub memicingkan mata, mengintip lewat celah periuk yang terbuka. Lalu ia mengernyitkan dahi. Kok tidak kelihatan butir-butir nasi? Mungkin matanya yang sudah tua. Atau sempitnya celah yang bertabrakan dengan warna periuk yang menghitam.

Digesernya lagi tutup periuk itu. Masih tak ada apa-apa. Digesernya lagi sedikit. Kosong. Digesernya lagi sampai setengah terbuka. Tapi yang nampak di matanya cuma periuk kayu hitam dan air rebusan. Tak percaya dengan kedua matanya, ia angkat –

“Mas! Jangan!”

– tutup periuk itu.

Nawang Wulan, dengan napas tersengal, berlari ke arahnya.

Jaka Tarub, satu tangan memegang tutup periuk, menatapnya heran.

“Mas! Jangan lihat!”

Terlambat. Jaka Tarub keburu menoleh, mendapati periuk kosong dengan sebutir beras di tengah gejolak air mendidih. Ia menatap Nawang Wulan dengan penuh kekesalan, sementara perempuan itu pucat pasi.

“Mas –”

“Kamu lupa menaruh beras ke dalam periuk! Lihat ini, cuma ada sebutir di dalam. Pantas saja dari tadi tak ada nasi yang matang. Harusnya saya sudah ke ladang sekarang!”

“Mas, itu –”

Jaka Tarub mengangkat periuk dari atas kompor kayu, memindahkannya ke samping lumbung padi.

“Wulan, kamu masak nasi sekarang.”

Jaka Tarub menungguinya di dekat kompor kayu.

“Untung ‘kan tadi saya buka periuknya. Kalau saya tidak buka, kita akan terus menunggu periuk ini berbunyi tanpa tahu kalau periuk ini cuma berisikan air.”

Wajah Nawang Wulan masih pucat. Jaka Tarub menarik napas panjang.

“Wulan, maafkan saya memarahi kamu barusan. Saya cuma kesal karena lapar dan tugas saya di ladang jadi terbengkalai. Sekarang saya akan ke ladang sebentar. Nanti kira-kira waktu nasi sudah matang, saya kembali.”

Nawang Wulan menggeleng. “Bukan, Mas, bukan itu…”

“Lalu apa, Wulan?”

“Beras itu –” napasnya tercekat, “Beras itu – memang seharusnya demikian, Mas. Sebutir beras untuk satu periuk nasi. Kami para bidadari semuanya memiliki kemampuan ini. Tapi dengan satu syarat: tak boleh ketahuan manusia.”

Jaka Tarub pergi meladang tanpa berkata-kata. Ketakutannya menjadi kenyataan. Beras di lumbung akan berkurang dengan kecepatan normal. Selendang itu tinggal menunggu waktu untuk ditemukan.

*

Pagi itu akan menjadi pagi yang biasa-biasa saja seandainya Nawang Wulan tidak menghampiri Jaka Tarub di ladang dengan membawa sehelai selendang. Mendadak matahari terasa dua kali lebih terik.

Keduanya berpandangan. Tumpukan pertanyaan di mata Nawang Wulan, rangkaian kecemasan di mata Jaka Tarub.

“Mas, saya menemukan ini di dasar lumbung padi…”

Jaka Tarub menelan ludah.

“Jadi Mas yang mencurinya waktu itu?”

“Saya –”

“Mas sengaja menjebak saya untuk tidak kembali ke kahyangan?”

Murka di mata sang bidadari, luka di mata pemuda bumi. Sedang panas matahari menguapkan kata demi kata.

Jaka Tarub bersimpuh di hadapan istrinya.

“Wulan, saya tidak pernah bermaksud jahat terhadap kamu. Saya tidak tahu selendang itu ada pemiliknya. Saya cuma ingin menjual manik-manik permata yang menempel di sana, lalu mendapatkan uangnya.”

“Lalu kenapa tidak Mas kembalikan saat Mas lihat saya menangis?”

“Saya takut. Saya takut dihukum karena telah mencuri. Apalagi kamu bilang kamu berasal dari kahyangan – kutuk pastu macam apa yang bakal saya dapatkan nanti?”

Jaka Tarub meraih tangan Nawang Wulan, menatap matanya.

“Gusti Raden Ajeng Nawang Wulan, saya mencintai kamu dengan segenap hati saya, dengan sepenuh jiwa saya, dengan segala kemanusiaan saya. Dengan seluruh cinta, saya menginginkan kamu bahagia. Dengan setulus hati, saya ingin menghentikan air matamu yang mengalir saat malam tiba. Tapi dengan segala kemanusiaan saya, saya takkan puas mencintai bila tak memiliki.”

Nawang Wulan masih diam, tapi Jaka Tarub bisa melihat, tak ada cinta di sorot matanya.

“Tempat saya bukan di sini, Mas,” ucapnya lirih sambil membelitkan selendang di tubuhnya.

Jaka Tarub mengangguk kecil. Tak ada yang bisa dibantah dari fakta itu.

Nawang Wulan mencium tangannya.

Hukuman dari kahyangan, berakhir sudah.

Hukuman dari cinta yang rindu, bermula di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s