Zona – 30 Hari Menulis Surat Cinta #1

Seharusnya tak perlu ada pembagian zona waktu, kalau itu cuma memperbesar rindu. Kini kita tak berbeda dari matahari dan bulan yang suka kucing-kucingan. Kamu terjaga, aku terlelap. Aku memimpikanmu, kamu cuma bisa merindukanku.

Dari dua puluh empat jam yang kita punya, berapa yang bisa kita habisi berdua? Tak banyak. Percakapan kita adalah senja paling merah atau fajar paling binar, dari siklus monoton sebuah hari yang cuma terbagi jadi terang dan gelap. “selamat malam” dan “selamat pagi” tak lagi punya makna dalam kosakata kita; tergantikan “apa kabarmu setengah hari yang tadi”.

Selamat pagi, kamu yang ada di lintas samudera. Mungkin saat ini kamu tengah menuang susu ke mangkuk serealmu. Atau menyikat gigi sambil setengah mengantuk. Atau memutuskan untuk kembali meringkuk karena ini akhir minggu. Saat kamu benar terjaga nanti, mungkin aku telah aku terbuai oleh kerlip bintang, dan surat ini akan jadi jejak terakhir dariku. Semoga kamu baik-baik di sana. Aku mencintaimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s