Rumah – 30 Hari Menulis Surat Cinta #2

Ibu, tolong! Aku tak bisa mengeja kata “rumah”.

Aku yakin Ibu pernah mengajariku tentang kata tersebut, saat Ibu mengajariku membaca dulu. Bahkan mungkin ini salah satu kata yang paling awal Ibu ajarkan, di samping kosakata seputar hierarki keluarga. Ayah, ibu, pakdhe, bulik, eyang kakung, mbah buyut… dan ragam kata lainnya yang sering kucampur aduk setiap pertemuan keluarga besar.

Ibu, tolong. Ajari aku sekali lagi, tentang lima huruf yang tak selesai kumaknai dalam lima warsa. Rupa-rupanya dulu aku pergi menggenggam restu, tapi lupa mengemas serta hati. Tapi iringan waktu adalah musik paling baik bagi pertumbuhan janin cinta, dan negeri asing pun perlahan terasa sebagai rumah. Dari tanah gersang ini aku mencari nafkah, di metropolitan ini aku hidup dan bernapas. Namun tak ada kalian di sini. Tak ada dua insan yang membawa kasih Tuhan paling nyata di muka bumi. Setiap habis liburanku bersama kalian, aku tak tahu bagaimana menamai lima jam penerbanganku kembali: apakah ini sebuah “pergi” demi sebuah kewajiban, ataukah sebuah “pulang” ke duniaku yang nyata?

Ibu, tolong. Aku tak bisa mengeja kata “rumah”. Tanpa menangis merindukanmu dan Ayah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s