Hari Istimewa – 30 Hari Menulis Surat Cinta #8

Selamat pagi, Sayang. Akhirnya hari istimewa ini tiba juga. Perasaanku saat ini bercampur aduk, bagaimana denganmu? Sebagian diriku berdebar menanti, sebagian lagi ingin membekukan detik. Aku sungguh bingung.

Jujur, sejak aku membuka mata subuh tadi, aku terus mengulang pertanyaan yang sama: benarkah ini keputusan yang tepat? Memberikan cinta pada seorang yang belum kukenal lama. Belum banyak yang kuketahui tentangmu. Benarkah kamu yang terbaik, benarkah kamu layak jadi yang terakhir, aku tak yakin benar. Inikah yang digembar-gemborkan para pujangga sebagai cinta sejati; ataukah ini sekedar emosi?

Sayang, tadi pagi aku bertengkar dengan para penata rias. Habis, mereka tak berhenti-berhenti menambahkan polesan di mataku dengan alasan “matamu terlihat kuyu sekali”. Padahal sudah kujelaskan berulang kali bahwa ini cuma efek kurang tidur semalam. Tapi mereka tak mau tahu. Akhirnya aku marah kepada mereka. Memangnya mereka kira kita mau main ludruk apa, sampai harus dirias seheboh ini?

Tapi, beberapa waktu setelahnya gantian mereka yang kesal denganku, hahaha.. Gara-garanya aku menangis saat mengenakan setelan yang telah mereka siapkan. Mulanya aku cuma menitikkan air mata, namun bagai bendungan, satu celah retak bisa mengakibatkan ambrolnya seluruh fondasi. Akibatnya mereka jadi harus menambah lagi polesan di wajahku, agar lintasan anak sungai tangis tersamar. Sungguh aku tak siap menghadapi hari ini.

Mobil jemputan datang tepat pukul dua belas, membawa kedua orang tuaku serta. Ada keheningan yang sumbang saat kami bertatapan, namun tak urung mereka memelukku jua. Kami hampir tak bicara selama perjalanan. Mungkin mereka masih tak seratus persen rela melepasku memilihmu.

Di gerbang gereja tempat kami berhenti, puluhan manusia telah menunggu. Satu-persatu mereka menoleh saat mendengar langkahku dan Ayah di atas lantai marmer. Dari gang sempit di antara baris-baris bangku aku melirik: tak ada bibir yang tak terlengkung, ke mana pun arah mata ini memandang. Seolah mendorongku untuk yakin berjalan ke depan altar. Menemuimu, yang tersenyum manis dengan sikap sempurna.

Untuk kemudian menyerahkan hidupku sepenuhnya sebagai tanda cinta.

Aku mencintaimu, Juliet.

– Romeo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s