Dua Hari – 30 Hari Menulis Surat Cinta #15

Sayang,
suratmu sudah aku terima. Sudah kubaca, berulang kali sampai tak karuan bentuknya. Ada jejak tangan di sana, ada noda minyak dari pisang goreng kemarin sore, ada cap cangkir kopi di pojoknya. Oh, mungkin ada titik air mata yang tercampur – aku tak yakin betul.

Kuharap kamu tak lantas marah padaku. Bukan aku tak menghargainya; surat itu cuma terlalu adiktif untuk dibaca. Tak banyak pernyataan rindu yang sampai ke inderaku, apalagi yang begitu personal – ditulis tangan. Mana mungkin tak kuulang sampai hafal luar kepala?

Sayang, aku ingin pulang detik ini juga, kalau saja bisa. Siapapun itu yang pertama menggambar mimpi sebagai awan tentu tahu betapa ringkihnya mereka: butir-butir udara, yang mudahnya menguap dan sekejap hilang. Akupun bosan melayang di tengah kawanan mimpi: mimpi yang sama setiap kali, mimpi merengkuhmu dalam dekapan lengan. Namun apalah dayaku, ketika jarak dan waktu sepakat kita harus menjauh?

Dua hari lagi, Sayang, tahan rindumu. Walaupun tak lama aku dapat singgah, akan kupastikan seluruh waktu dan diri buatmu seorang. Sebelum aku kembali terbang di atas awan-awan rindu. Ironis, ya. Sementara penumpang-penumpangku tidur dengan senyum, mungkin membayangkan perjumpaan yang segera tiba, setiap perjalanan bagiku adalah kepergian yang menyakitkan.

Dua hari lagi. Dua hari. Pastikan kamu menunggu di baris pertama pintu kedatangan. Sementara kupastikan aku berjalan paling cepat melewati gerbang imigrasi awak pesawat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s