Secangkir Kopi

Saat itu kita bertaruh, dan secangkir kopi menjadi tanggunganku.

Tak akan ada yang istimewa seandainya kamu adalah orang yang berbeda. Tapi kamu, adalah… kamu. Maka secangkir kopi ini tak boleh sekedar biasa.

Beratus-ratus cangkir kopi tercipta setelahnya, serupa tapi tak sama. Dari yang warnanya mocha sampai yang macho. Dari yang cara pembuatannya pesat sampai yang bikin penat. Dari yang rasanya cukup lezat sampai yang terlalu pekat. Tak terhitung berapa ragam varietas kopi bertumpuk di dapurku, berapa kotak susu kuhabiskan, berapa banyak gula terbuang percuma. Belum lagi jumlah malam yang dibunuh cangkir-cangkir ini.

Cintaku padamu takkan habis diukur dengan satuan biji kopi. Takkan usai pula ditakir dengan ribuan cangkir. Kamu adalah larutan pahit yang menghanyutkan serta adiktif; aroma tajam yang tetap bisa dinikmati dengan mata terpejam. Dan tak ubahnya kopi yang merajai meja-meja sarapan di penjuru bumi, kamu pun mengisi pelbagai relung hati.

Ratusan cangkir telah jadi saksi: eksperimenku dengan permutasi racikan kopi, sementara cintamu sibuk bermutasi. Kopiku tak pernah sebanding dengan keistimewaanmu. Aku tetap seorang dia di buku teleponmu. Sedang kamu satu-satunya di hatiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s