Dua Kata

Tidak banyak hal di dunia ini yang membuat orang kalap berjuang. Kekuasaan, misalnya, yang tak turun harganya dari zaman Pandawa sampai reformasi mahasiswa. Atau harta, bagi mereka yang pernah mencicipi nikmatnya membeli yang tak terbeli. Atau kata-kata, tepatnya dua kata, dalam kasusku contohnya.

Apakah kamu sungguh tidak tahu, atau sekedar tak mau tahu, bukan kapasitasku menghakimi. Kebenaran yang kutahu cuma dua: 1) kamu punya sekurang-kurangnya satu pengagum, dan 2) salah satu dari mereka ialah aku.

Aku tak pernah mengaku, karena aku tak yakin siap melihat reaksimu. Namun aku selalu berharap kamu melihatnya, walau aku jelas paham kamu bukan dukun. Kalau jerawat kecil di dahiku saja tak kamu luputkan jadi bahan godaan, harusnya, harusnya kamu juga bisa membaca tanda-tanda. Kecuali kamu dibanjiri perhatian sama besar dari seluruh geng pengagummu, dan lagi-lagi aku cuma salah satu.

Mungkin itulah juga alasan kenapa aku bertahan. Karena cuci otak dari ribuan buku remaja bertema seputar itik buruk rupa. Buku mana yang cukup realistis menulis bahwa pada akhirnya, mereka yang sekasta yang melewati sisa hidup bersama? Tak banyak, mungkin bahkan tak ada. Aku terjebak dalam paradigma, dan memperjuangkanmu jadi hasil akhirnya. Pelan tapi pasti aku mengubah diri, entah bagi kebaikanku sendiri atau sekedar berusaha mendapat nilai lebih di matamu. Berapa kesempatan tersisihkan demi bertahan di sampingmu? Sudahlah, malas menghitungnya. Mencintaimu adalah memberi diri hingga batas terakhir. Mencintaimu adalah menembus jurang pemisah zona nyaman dan dunia luar yang liar. Mencintaimu adalah mengobrak-abrik hatiku sendiri, bunker yang harusnya dijaga ketat dua puluh empat jam sehari.

Tapi kurasa tak ada yang lebih mendekati, atau mungkin melewati limit, dari sepenggal usahaku yang terakhir. Membagi hati tanpa ditimbang, untukmu dan untuknya. Lalu sengaja banyak bercerita kepadamu yang setengah hati, tentang dia yang mengingini sepenuh hati. Jawabanmu selalu sama: “ikuti hatimu”. Membuatku semakin frustrasi karena aku tahu ke mana hatiku ingin pergi, dan orang yang ia kasihi masih tak peduli. Dan karena bukan dua kata ini yang ingin kudengar dari mulutmu.

Malam tadi, dia menanyakan janji seusai menyatakan cinta. Aku tak menjawab, ia berlalu dan aku meneleponmu. Berharap untuk mendengar dua kata yang lama kutunggu. Tapi jawabanmu masih sama, dua kata yang bosan kudengar. Ikuti hatimu. Tahunan kuikuti ke mana ia pergi, mengetuk luar pintu hatimu sampai beku. Kalau saja kamu tahu.

Kuulang lagi pertanyaanku. “Jadi gimana dong… Gue nggak yakin beneran sayang sama dia.”

Kamu tertawa dengan intonasi gemas. “Makanya, apa gue bilang? Ikuti hatimu.”

Aku menyerah. Telepon ini lama-lama terasa memuakkan. Selama aku belum bisa terbang ke bintang untuk menggantung cita, aku takkan bisa menyemat cinta ke hatimu. Aku cuma ingin dengar dua kata, pengakuan bahwa kamu menginginkanku. Bahwa aku berarti untukmu. Bahwa aku adalah satu bintang yang kamu tunjuk di antara ribuan yang bertebaran di petak-petak langit. Dan aku telah sampai di perjuangan paling puncak, kesempatan paling tepat untukmu mengatakan dua kata yang kunanti. Yang pada akhirnya tetap tak terucap dari bibirmu.

“Jangan pergi.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s