Rewriting History: Cinderella

Cinderella digugat cerai. Kemarin ditemukan satu sepatu kaca tak berpasangan di rumah gubuknya, saat pesuruh kerajaan mengadakan acara bersih-bersih tahunan.

Dalam balutan rok usangnya yang compang-camping dan tangan terikat di belakang, Cinderella berlutut di hadapan seluruh punggawa kerajaan. Lalu ia mulai berkisah.

*

Semua orang tahu siapa Cinderella, bagaimana ia disiksa, betapa kejam keluarga tirinya, betapa lemah ayahnya terhadap istri yang semena-mena. Keluarga Cinderella adalah contoh terbaik akan hidup yang harus dihindari. Sang ayah adalah pelajaran berharga tentang harga diri laki-laki; tentang bagaimana pria harus menempatkan diri sebagai kepala dalam keluarga. Sang ibu beserta anak-anak tiri adalah kesalahan sempurna tentang bagaimana wanita harus bersikap. Cinderella adalah tokoh yang selalu mengundang perdebatan: haruskah ia dikasihani, atau dimarahi karena tak mampu berjuang bagi dirinya sendiri?

Masalahnya mereka tak pernah tahu siapa Cinderella. Cinderella yang ada di bayangan mereka adalah remaja compang-camping yang tak pernah keluar rumah, yang punya hati mungkin seluas lapangan bola untuk menerima saja diperlakukan seenaknya. Cinderella memang terlihat tak pernah keluar rumah, karena aktivitas kampung itu berhenti saat matahari membenamkan muka. Setelahnya?

Tak banyak yang tahu Cinderella adalah pujaan hati mereka yang harus bekerja di belakang terang. Tak banyak yang tahu putri lemah lembut ini pandai melompat dari atap ke atap, menyusup masuk lewat cerobong asap. Bukan untuk mengisi kaus kaki merah dengan hadiah, namun untuk mencari yang apa yang mungkin berharga di sudut-sudut ruangan, dalam laci-laci yang tertutup rapat. Tak banyak tahu Cinderella orang kedua terkuat minum-minum di gengnya, dan belum mau pulang kalau belum teler berat. Bahkan ibu tirinya pun tak pernah tahu, inilah alasan asli mengapa setiap pagi Cinderella tak kuat menggosok cucian cepat-cepat, tertidur saat menyiapkan sarapan, dan lemas saat menyapu halaman.

Suatu hari utusan kerajaan datang, membawa selembar kertas yang ditulis dengan tinta emas. Pangeran lelah mencari separuh hatinya. Ia ingin separuh hati itu datang menemuinya lewat ajang pesta dansa.

“Buat apa punya seluruh kerajaan kalo ngedapetin cinta aja nggak mampu?” bahas geng Cinderella malamnya.

“Salah dia sendiri lah,” jawab salah satu dari mereka, “Semua perempuan juga mau kali jadi istrinya. Dianya aja yang pilih-pilih. Masa pangeran kerajaan kalah sama gue. Gue yang cuma pencuri aja bisa deketin anak kepala RT sebelah, adeknya, terus anaknya si pendeta –” belum selesai ia berbicara, sebuah botol kosong mendarat di kepalanya, dan ia pingsan di kursi.

“Gila. Ulang aja terus itu cerita. Baru bikin patah hati lima cewek aja bangga,” kata seorang lagi yang mendaratkan botol tersebut.

Mereka terdiam, menikmati botol demi botol, yang dentingnya mengiringi musik para kodok. Sambil mengasihani sang putra raja. Padahal ia tampan dan perawakannya tegap – tak mungkin ada yang menolak ia peristri. Tak mungkin juga dia tak punya pilihan. Di antara mereka yang berdarah biru, yang tiap malam minggu diundang ke istana, pasti ada putri-putri molek yang pantas ia sanding. Tapi nyatanya dia masih sendiri. Bahkan kini menurunkan standarnya, mencari cinta lewat sayembara, yang terbuka bagi seluruh kelas masyarakat. Mungkin, Cinderella berfilsafat, saat seorang memiliki segalanya, saat itulah ia juga harus punya kekosongan yang sama besar. Mungkin dunia memang begitu setia pada keadilan. Keadilan… Keseimbangan…

“Kalo gue jadi istri pangeran gimana ya?” tiba-tiba Cinderella bertanya.

Terdengar tawa menggelegar. “Loe? Jadi perempuan nomor satu di kerajaan? Loe kebanyakan minum deh kayaknya. Pulang deh sono ke gubuk loe.”

Cinderella menghantamkan botolnya yang tinggal setengah ke meja. “Gue serius,” dipandangnya pria-pria itu satu-persatu. “Kita punya cukup duit untuk beli satu set baju mahal. Atau nyolong dari mana gitu kek… Alat rias, gue bisa nyolong punya kakak-kakak tiri gue. Gue juga bisa dansa kan, gara-gara sering bareng kalian ke bar kampung sebelah. Lalu kalian pura-pura jadi prajurit gue.”

Yang lain masih terngaga.

“Coba kalian bayangin. Beli satu baju mahal gak bakal sampe ngabisin seperempat dari duit kita. Anggep aja iseng-iseng berhadiah – kalo kita beruntung dan gue beneran jadi istrinya, kita bisa hidup mewah. Gak perlu lagi keluar masuk cerobong asap. Kita tinggal duduk diam di istana, minum-minum, makan-makan –”

Pria-pria itu serempak berdiri, mengacungkan botol mereka. “Ide brilian!” teriak mereka. Cinderella ikut berdiri. Mereka bersulang dengan botol-botol yang tersisa. Sementara dia yang pingsan, mulai siuman karena suara yang membahana.

*

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pesta dansa pertama.

Mereka siapkan segalanya dengan sempurna. Seminggu terakhir, setiap pagi kakak-kakak Cinderella bertengkar, menyalahkan satu sama lain yang memakai riasan terlalu tebal. Pasalnya bedak mereka mendadak berkurang drastis. Cinderella pura-pura tak dengar, melanjutkan mencuci sambil terkantuk-kantuk.

Geng Cinderella ternyata cukup mengerti mode. Entah mengerti, atau sekedar kebetulan. Dalam kegelapan malam mereka menyusupkan gaun biru muda dari rumah penjahit terkenal kota tetangga. Di malam Cinderella mencobanya, lengkap dengan riasan di muka, separuh dari mereka membatin: seandainya aku tak perlu mencuri untuk mampu memberinya hidup mewah seperti ini, dan memilikinya sampai nafas terakhir. Seandainya.

Malam itu mereka membajak sebuah karavan yang lewat, lalu menaikinya sampai ke depan istana. Cinderella masuk dengan dagu terangkat: I’ve got nothing to lose anyway.

Ratusan perempuan tengah berbaris anggun di hadapan pangeran, ketika Cinderella melangkahkan sepatunya yang berhak tujuh sentimeter di atas lantai marmer. Sontak semua menoleh. Tak terkecuali pangeran.

Cinderella melepas senyumnya yang paling manis.

“Wahai perempuan,” pangeran menatapnya tajam.

Cinderella menyeruak di antara kerumunan, membungkuk dan memberi hormat. “Ya, Paduka.”

“Kamu tahu ini jam berapa?”

Rasakan, pikir para wanita, kamu akan jadi nomor terakhir dalam urutan dansanya malam ini.

Cinderella melirik jam di sudut kiri ruangan. “Sembilan lebih satu menit, Paduka.”

“Mengapa kamu datang satu menit terlambat?”

“Karena saya yakin Paduka akan menunggu saya.”

Pangeran terperanjat. Ratusan pasang mata menebar cibiran. Cinderella masih tersenyum.

“Baiklah,” pangeran memalingkan muka ke arah tim orkestra. “Mari kita mulai.”

Waltz pertama mengalun. Pangeran berdiri, melangkahi satu-persatu anak tangga, menyeleksi para wanita. Ada yang tak berkedip menatapnya. Ada yang ternganga sampai membuat pangeran geli dalam hati.

Cinderella masih di barisan paling depan. Pangeran berdiri tepat di hadapannya. Menyilaukan mata dengan deretan lencana.

Ia raih tangan Cinderella, dan mereka berdansa.

*

Ada satu peraturan yang harus ditaati Cinderella, walaupun sedang dalam misinya menjatuhkan hati pangeran. Peraturan itu adalah pulang jam dua belas malam, dan kembali bergerilnya naik-turun cerobong asap.

Malam pertama ia bersulang bersama gengnya. Dia berdansa paling lama dengan pangeran, bahkan pulang membawa sebuah jam dinding lapis perunggu. Pangeran menghadiahkannya, agar ia tak lagi datang terlambat.

Malam kedua Cinderella datang tepat waktu. Lebih cepat lima menit malah.

“Rupanya jam yang saya berikan berguna,” pangeran berkata saat Cinderella melangkah masuk.

“Tentu saja, Paduka. Jam itu bahkan bergerak mundur agar saya tak lupa pesta malam ini.”

Pangeran ingin tertawa, sayang ia harus menjaga wibawa. Ia menjentikkan jari ke arah para pemusik, lalu turun dan melingkarkan tangannya ke pinggang Cinderella.

*

Malam kedua Cinderella pulang terlambat. Hari ini ia kurang beruntung. Ada wanita lain yang berhasil mencuri waktu pangeran lebih lama.

Hari ketiga, pangeran cuma berdansa dengan satu wanita. Raja mengelus dada dan ratu menitikkan air mata. Akhirnya putra semata wayang menjatuhkan pilihannya juga. Ribuan perempuan kecewa, kecuali Cinderella, walau bukan dirinya yang terpilih. Ia tahu persis di mana posisinya, ia tahu persis tujuannya berada di sana, dan ia tak merasa rugi. Toh aku tak mengeluarkan uang sama sekali, pikirnya. Plus masih mendapat kesempatan berdansa serta berbicara dengan calon pria nomor satu sekerajaan. Tak ada yang perlu ia sesali. Tak ada yang perlu ia minta lebih.

Setengah dua belas. Waktunya istirahat. Sebagian perempuan sudah meninggalkan istana, kembali ke dunia nyata setelah tiga malam bermimpi dipilih oleh seorang pria luar biasa. Cinderella masih tetap tinggal, tak mau melewatkan kesempatan duduk di sofa beludru sambil minum anggur kelas satu.

Calon istri pangeran duduk di sebelahnya, melepas sepatu. Sepintas ia melirik tumitnya yang lecet, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi.

Cinderella memandangi sepasang sepatu kaca di pinggir kaki kirinya.

Lantas tersenyum tipis.

Sambil memastikan tak seorang pun melihat, diambilnya sebelah sepatu, lalu ia menyelinap pergi. Menemui gengnya untuk kembali beraksi.

*

Beberapa hari kemudian tersebar berita, huru-hara terjadi di pesta dansa malam ketiga.

Calon first lady histeris saat kembali ke sofa beludru dan mendapati sepatunya tinggal satu. Dengan panik ia berlari, mencari kesana kemari. Ia berlari dan berlari, hingga tanpa sadar ia telah jauh meninggalkan ruang dansa. Malu untuk tampil dengan satu sepatu dan satu kaki lecet, ia memutuskan untuk terus berlari dan tak kembali. Pangeran kelimpungan. Kini tanggungannya dua. Hati separuh dan sepatu yang cuma satu.

Hari berikutnya ia bersumpah, akan mencari wanita pilihannya sampai ketemu. Mungkin memang tak seharusnya minta cinta yang datang, pikirnya. Mungkin cinta memang untuk diperjuangkan. Di hadapan orang tuanya dan pendeta kerajaan ia bersumpah, akan menikah dengan pemilik pasangan sepatu di tangannya.

Sepatu kaca jadi tren dadakan di kerajaan tersebut. Tukang-tukang sepatu kebanjiran order. Setiap wanita mencoba peruntungannya: siapa tahu warna sepatu yang mereka pesan sama dengan yang dibawa pangeran. Siapa tahu bentuknya pun sama. Mereka yang berduit bahkan mengantisipasi setiap model beserta setiap warna yang mungkin.

Kota demi kota pangeran lalui, desa demi desa ia hampiri. Ia ketuk setiap pintu, namun cintanya tak juga ketemu. Sepatu kaca mulai lusuh. Sempat pangeran berpikir untuk menyerah, tapi menyalahi sumpah adalah perbuatan hina. Maka ia terus berjalan.

Suatu hari ia sampai sebuah rumah, berisi seorang ibu menor dan dua putrinya. Sebenarnya pangeran sedikit jijik melihat senyum mereka yang dibuat-buat, keramah-tamahan yang berbasis paksa, tapi ia telanjur janji akan memberi kesempatan setiap wanita untuk mencoba. Dalam hati ia berdoa, semoga sepatunya tak muat dipakai wanita-wanita ini.

Ia bernapas lega saat remaja bungsu mencoba menjejalkan kakinya namun tak muat. Baru saja ia hendak berbalik, Cinderella muncul dari balik pintu dapur.

“Ibu, sarapan –” matanya terbelalak menatap rombongan di ruang tamu rumahnya.

Ibu tiri melotot pada Cinderella. “Keluar, dekil!” desisnya.

Melihat Cinderella terbirit-birit ke belakang rumah, pangeran angkat bicara.

“Hei, perempuan, silakan kamu mencoba.”

“Ah, Paduka,” ibu tiri menyela, “Tak mungkin anak compang-camping ini wanita pilihan pangeran. Saya juga yakin ukuran kakinya lebih besar dari sepatu ini.”

“Tapi saya telah berjanji, akan memberi setiap wanita kesempatan. Panggilkan dia.”

Dengan kesal ibu tiri berbalik, menuju kamar Cinderella.

“Sini kamu!” diseretnya Cinderella yang tengah menunduk di depan lemari. Diseretnya gadis itu.

“Ngapain sih kamu tadi pakai keluar segala. Bikin repot aja tahu nggak?” dijewernya kuping Cinderella keras-keras. Cinderella cuma meringis.

Pangeran tengah berjalan-jalan di halaman rumah ditemani kedua kakak tirinya, ketika Cinderella tiba di ruang tamu.

Patih menyorongkan sepatu kaca dengan hati-hati ke kaki Cinderella.

Berlagak ceroboh, Cinderella memiringkan kaki saat mencobanya, hingga ia terjatuh. Ibu tirinya menjerit.

“Anak bodoh!” cercanya. “Kamu tahu sepatu itu tak ternilai harganya! Kalau pecah bagaimana? Hati-hati sedikit kenapa sih?”

Tak ada yang tahu, kegesitan tangan seorang pencuri dalam hitungan detik.

Pura-pura gemetaran, Cinderella berdiri. Dengan sepatu yang menempel pas di kakinya. Ibu tiri tercengang. Patih apalagi. Segera ia melesat ke luar rumah.

“Yang Mulia!” teriaknya. “Yang Mulia! Sepatunya pas di kaki gadis ini!”

Pangeran membelalakkan mata tak percaya. Ia bergegas masuk, mendapati Cinderella dengan sebelah sepatu terpasang indah di kaki kirinya. Berulang kali ditatapnya gadis itu, dari atas sampai bawah. Mana mungkin, tanyanya dalam hati. Mana mungkin wanita cantik itu, sehari-hari dekil begini?

Perlahan Cinderella mengeluarkan sepatu sebelah kanan. Memakainya hati-hati. Pangeran masih tak percaya, tapi kini sambil menahan tawa. Manusia di hadapannya sungguh lucu. Rambut panjang awut-awutan, wajah mengantuk, rok berlubang di sana-sini, dan sepatu kaca mengkilap tinggi sepuluh senti. Chaos.

Benaknya masih bertanya, tapi pangeran memilih untuk lupa. Sekian bulan telah berlalu sejak tiga malam pesta dansa. Total waktu yang ia habiskan dengan sang perempuan pilihan tak lebih dari lima jam. Dia tak ingat persis seperti apa paras wanita itu, lagipula riasan tebal seringkali mengacaukan identitas. Gadis di hadapannya bukan yang tercantik yang ia pernah temui, tapi toh ia juga ingin cepat mengakhiri ekspedisi. Perjalanan panjang membuka matanya, bahwa Sumpah Pencarian Pasangan Sepatu itu cuma kepongahan hati yang menyusahkan terlalu banyak pihak. Merepotkan patih yang sudah tua, melelahkan sekompi prajurit yang harus menemaninya, membuang waktu yang berharga. Kalau saja dari dulu ia mau memilih. Kalau saja ia tak idealis mencari kesempurnaan. Tak perlu ada kehebohan macam begini.

Dipandangnya Cinderella lekat-lekat. Terima kasih, penyelamat, batinnya. Kamu mengakhiri petuah sore ibuku tentang mencintai dan ceramah malam ayah tentang meneruskan dinasti.

Kecantikan tak lagi jadi soal. Istananya punya terlalu banyak perhiasan dan ritual untuk menjadikan gadis ini menawan.

*

Seorang putri compang-camping dan seorang pangeran gagah berani. Siapa yang tak iri?

Setiap kali ia tampil bersama suaminya, seluruh rakyat kerajaan menebak-nebak: seperti apakah kaki istimewa itu, yang sepatunya tak muat dengan kaki lain manapun. Terlalu mungilkah? Atau berbentuk sedemikian spesial? Mitos pun mulai menyebar di antara dukun-dukun gadungan, tentang mencari jodoh lewat kecocokan bentuk kaki.

Tak ada yang tahu bahwa Cinderella berkaki biasa-biasa saja. Tidak mungil dan tidak terawat, karena setiap pagi ia harus menyapu, setiap siang menjemur pakaian, dan setiap malam memanjat genting serta pagar.

Malam itu, Cinderella berlari menemui gengnya sambil mengacung-acungkan sebuah benda mengilap. Teman-temannya mengira, pangeran memberi Cinderella perhiasan. Ternyata bukan. Cinderella membawa sepasang sepatu. Demi mengisengi perempuan pilihan pangeran, agar pesta dansa sedikit kacau.

Cinderella tak menyangka keisengannya membawa dampak sedemikian masif dalam pencarian cinta pangeran. Ia tak menyangka sang putri pilihan akan lari begitu saja cuma karena malu berdansa tanpa sepatu. Ini bukan musim dingin, di mana lantai marmer bisa membekukan jari-jari kaki. Kalau saja putri itu cukup percaya diri, pangeran lebih dari mampu membelikannya ribuan sepatu sebagai ganti. Sayang.

Saat tersiar kabar tentang sumpah pangeran, Cinderella menemui tukang sepatu tua yang tak laku. Hati-hati ia mengeluarkan sebuah sepatu kaca biru muda. Lalu minta dibuatkan sepasang duplikat, satu ukuran lebih besar. Ia tawarkan sebuntal uang yang, bagi orang tua itu, bisa cukup untuk hidup setengah tahun. Mata pak tua itu berbinar. Roda-roda mesin yang lama mati, mulai ia minyaki.

*

Pangeran berdiri dari tahtanya, berjalan menuju sepasang sepatu kaca yang dipajang apik dalam kotak kaca, beralaskan bantal ungu.

Dibukanya boks itu. Lalu ia jatuhkan sepasang sepatu ke lantai marmer.

Keping-keping kaca berhamburan.

Kemudian ia ambil sepatu kaca sebelah kiri, yang asli. Ditimang-timangnya.

Tahunan telah berlalu sejak pesta dansa itu. Ia bahkan tak ingat lagi wajah sesungguhnya sang wanita pilihan. Dengan bekal satu sepatu, bisakah dia, sekali lagi, mencari kebenaran? Akankah wanita itu juga masih menyimpan sebelah sepatunya? Atau justru membuangnya dalam keputusasaan saat mendengar kabar pangeran telah meminang Cinderella. Seandainya pun ia masih menyimpannya, seiring jalannya waktu, bagaimana ia akan melacak keasliannya? Bagaimana kalau waktu memudarkan warna dengan kecepatan yang berbeda, mungkin akibat perawatan yang berbeda. Kerajaan seluas ini, dari sudut mana lagi harus ia mulai mencari?

Ia berjalan pelan menghampiri Cinderella. Diusapnya pipi perempuan itu. Cinderella mencium punggung tangannya.

“Aku tak bisa mempertahankanmu di sini,” ujarnya pelan. “Aku harus menjunjung tinggi kebenaran, keadilan… Aku tak bisa membiarkan seorang penipu menjadi pendampingku.”

Seiris nyeri di hati Cinderella.

“Tahunan kita bersama, ribuan hari kita jalani hidup berdua… Aku tak menyangkal bahwa aku mencintaimu. Tapi kamu harus pergi,” diusapnya tetes air di pipi Cinderella. “Aku tetap akan menjamin hidupmu, kalau itu yang kamu takut.”

Cinderella menggeleng. Dia masih ingat betul motivasi awalnya mengikuti sayembara: iseng-iseng berhadiah untuk menaikkan kasta. Tapi suaminya benar. Hari-hari telah menumbuhkan cinta, memupuk pengertian. Suaminya, pujaan hati sejuta wanita, juga tak sempurna. Butuh waktu untuk belajar menerima, dan proses ini tak terkompensasi oleh harta segelimang apapun. Pernah ia kecewa, tak jarang ia menangis, walau ribuan wanita iri akan keberuntungannya. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Masalahnya yang mereka lihat cuma taman bunga di luar kastil, yang ada di prioritas perawatan nomor satu. Kalau saja mereka pernah punya kesempatan memutari bagian dalamnya, menyaksikan pot-pot tandus di sudut-sudut yang terlupakan.

Pangeran meraih dagu Cinderella, kemudian menciumnya. Mungkin yang terakhir kali, menurut firasat keduanya.

Mereka membuka mata, lalu pangeran menjentikkan jari. Dua orang pengawal melepas ikatan tangan Cinderella, menggandengnya, siap membawanya ke luar istana.

Langkah kedua. Cinderella berbalik, menatap pangeran.

“Aku mencintaimu. Meski aku bukan pasangan dari sepatu kacamu.”

Dilihatnya mata pangeran sedikit berair.

Cinderella tersenyum tipis. Melangkah pergi, dan tak pernah kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s