Jaket

Untung jaket tak bisa bercerita. Kalau bisa, aku tak tahu harus bayar berapa untuk membungkamnya.

Dengan hati-hati kupindahkan jaket baru kering itu dari jemuran ke papan setrika. Lalu dengan cermat aku mencari label care instructions sebelum memutar termostat setrika. Mulailah aku melicinkan jaket itu pelan-pelan.

Aku tersenyum sendiri saat selesai menyetrika kemudian melipat jaket itu dengan presisi yang agak berlebih. Seumur-umur baru sekali ini aku memperlakukan sebuah jaket sedemikian sakral. Padahal aku pernah punya jaket yang harganya pasti lebih mahal dari ini. Padahal jaket ini cuma hitam polos, yang fungsinya mentok jadi penghangat badan dan bukan untuk status kebanggaan.

Tapi buatku jaket ini punya nilai yang tak terkalahkan oleh merek sekelas apapun. Karena ini jaketmu. Jaket orang yang aku sayangi sejak sekilas pandang tak sengaja, berikut pandangan-pandangan selanjutnya yang harus susah-payah dicuri biar tak ketahuan. Seandainya jaket ini punya mata dan ingatan, dia akan jadi saksi kunci paling dicari jika suatu hari aku diadili oleh sebab mengamatimu diam-diam.

Kemarin malam kamu datang, mengenakan jaket yang kamu miliki sejak tiga tahun lalu, walaupun banyak jaket lain yang kamu beli dalam periode itu. Terkadang aku berpikir, apa istimewanya jaket ini untuk terus kaupertahankan, sementara aku pernah melihatmu dengan jaket-jaket lain yang lebih menawan. Namun aku tak pernah bertanya. Untuk apa membongkar rahasia bahwa variasi jaketmu saja aku hafal luar kepala?

Kemarin kamu datang, (masih tetap) bukan dengan alasan roman. Kenyataan yang sudah aku terima dengan lapang dada, walaupun harapan masih tak bisa diajari tenggang rasa. Kamu datang basah kuyup, gara-gara hujan yang absurd dan payung yang dipatahkan badai. Tak mau masuk angin, kamu memutuskan pulang kedinginan daripada mengenakan jaket basah. Serta-merta aku menawarkan diri mencucinya. Bukan karena aku suka mencuci baju. Aku cuma ingin semalam saja tidur memeluk wangi tubuhmu. Buatmu mungkin tak masuk akal, tapi buatku ini fenomena langka yang akhirnya terulang setelah tiga tahun terbuang dan entah berapa botol parfum tertuang.

Aku melepas kabel setrika, menyimpannya kembali di gudang, lalu membawa jaket itu ke kamar. Meletakkannya di sisi kanan bantal, tempatku biasa menaruh weker.

Besok pagi, aku akan membuka mata pada wangi tubuhmu. Malam ini, tidurku akan jadi paling nyenyak sedunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s