22

Setumpuk kartu warna-warni dan sebuah kanvas satu meter persegi. Teman kosku yang kebetulan lewat di depan pintu kamar yang terbuka setengah, berkata dengan alis terangkat sebelah, “Aku baru tahu ada elektif kerajinan tangan di kuliah teknik.”

Aku tertawa. “Seandainya aku segitu cintanya dengan seni sampai mengalokasikan satu elektif, mungkin dulu aku sudah memilih masuk jurusan seni rupa.”

“Lalu itu buat apaan?”

“Ada deh,” lalu kuberi dia isyarat untuk menjauh, dan aku menutup pintu sambil mengedip. Kanvas ini belum saatnya keluar dari pingitan.

Kemarin aku membagi-bagi puluhan kertas kosong berbagai warna ke rekan-rekan jurusan seangkatan, seorang selembar. Aku minta mereka menulis sesuatu tentang ulang tahun, apapun itu – sekedar ucapan selamat, pantun, birthday wishes… apapun. Tidak perlu indah, tidak perlu panjang.

Beberapa orang langsung menuliskan pesan-pesan sederhana tanpa ba-bi-bu, lalu mengembalikan kartunya padaku dan melanjutkan belajar. Beberapa lagi memastikan bahwa aku tahu tentang mitos pamali dan siap menerima konsekuensi diucapi selamat ulang tahun seminggu sebelum hari H. Sisanya basa-basi bertanya ini ulang tahun keberapa, dan saat kujawab 22, terlihat lebih bingung daripada saat sebelum bertanya.

Apa yang istimewa dari 22, tanya mereka selanjutnya. Seharusnya kurekam saja jawabanku sehingga tak perlu lagi kuulang kalimat yang sama persis kepada semua orang: “Nggak ada sih… Cuma ini tahun terakhir kita kuliah dan ini akan jadi ulang tahun terakhirku bersama kalian.”

Tak ada yang tak puas dengan jawaban tersebut, walaupun sesungguhnya alasan itu hanya kedok. Dari satu angkatan ini cuma ada satu orang yang berarti. Yang aku tahu takkan menulis untukku kalau tak diminta. Tapi memintamu – seorang saja – untuk menuliskan selamat ulang tahun, jelas merupakan sinyal yang terlalu gamblang. Harus ada cara menyamarkannya. Dan membuat satu angkatan melakukan hal yang sama terlihat sebagai jalan yang paling masuk akal. Cukuplah saat kamu menyerahkan kertas itu padaku, aku berandai-andai, bahwa kamu pun telah lama menunggu kesempatan ini tiba. Menulis untukku dari dalam hatimu.

Kartu-kartu yang kubagikan berukuran sekitar 10×10 sentimeter, namun bentuk dan warnanya beragam. Aku berencana menyusun semuanya secara tak beraturan ke dalam sebuah mozaik. Sedari kecil aku mempunyai kekaguman tersendiri terhadap karya seni jenis ini: sebuah pola dalam keteracakan, sebuah keteraturan dalam ketidakteraturan, sebuah rencana di balik apa yang terlihat seperti kebetulan.

Aku yakin, dengan variasi bentuk dan warna seberagam itu, semua orang akan merasa mendapat satu kartu acak. Termasuk kamu. Kamu takkan menyadari bahwa kertas yang kamu tulisi adalah satu-satunya kertas warna merah muda. Nanti, saat mozaik itu jadi, kamu akan mengira kertas itu sekawanan dengan kertas-kertas krem, salem, putih, dan kuning. Kamu juga takkan tahu bahwa kartu merah muda itu direkatkan paling pertama ke kanvas. Kartu itu akan kurekatkan tepat di posisi sepertiga dari atas, sepertiga dari kiri, sebagai simbol sebuah poros. Karena selayaknya jantung hati, kamulah inti dari mozaik ini. Kamulah denyut yang menghidupkan kertas-kertas tak bernyawa. Dan kamulah sebagian yang menenggelamkan makna keseluruhan; sebelah jiwa yang melenyapkan arti dunia.

Iklan

2 thoughts on “22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s