Buku Harian

Kamu sampai di halaman terakhir, dan mendadak tanganmu enggan menulis.

Kamu balik buku harian itu ke halaman pertama. 12 Oktober 2009. Kamu tertegun. Ternyata tiga tahun muat dalam dua ratus halaman A5 dengan margin dua sentimeter dan baris-baris setinggi delapan milimeter.

Membaca halaman pertama membuatmu sedikit geli. Kamu membuka buku itu dengan kata sambutan seresmi presiden membuka Pekan Olahraga Nasional. Kamu berterima kasih pada buku pendahulunya yang telah kamu umpamakan sebagai external harddisk manual, kamu beri kata penutup pada cerita-cerita usang, dan kamu ucap doa bagi lembar-lembar baru yang semoga, tak lagi kabur tulisannya kena air mata.

Entri demi entri kamu lalui, seolah menonton acara kaleidoskop tahunan di malam tahun baru. Tak jarang kamu temui halaman yang tanggalnya melompat jauh dari halaman sebelumnya. Namun otak tak ubahnya memori terkompres yang paling luas, dan setiap entri adalah kata kunci yang mengurai setiap jejak adegan yang selama ini berjubel jadi satu. Mata hatimu seolah membaca lembar-lembar tulisan yang tak kasat mata jasmani.

Memori seribu hari membanjiri waktu, menghanyutkanmu dalam arus perasaan yang berkecamuk. Sebagian darimu membela diri, bahwa tak ada yang perlu disesali; bahwa hidup adalah rel kereta dengan jadwal yang tepat waktu. Kamu cuma tidak punya cukup indera untuk mengetahui kapan, bagaimana, dan siapa yang akan pergi atau tiba.

Namun sebagian dirimu yang lain menenggelamkanmu dengan puluhan “seandainya”, membuatmu makin megap-megap mengarungi sungai kenangan. Kalau saja kamu tahu lebih dulu. Kalau saja penyesalan dapat kamu jemput lebih cepat untuk membocorkan hal-hal yang tak perlu kamu lakukan. Tapi bahkan buku harian ini saja, tak bisa kamu tulis ulang. Cuma bisa kamu tempa dengan tinta koreksi putih, sedang teks aslinya tetap menghantui.

Tiga tahun kamu menunggu, seseorang yang firasatmu bilang, akan menjadi perhentian terakhir dari pencarian. Tiga tahun keretamu berjalan menyusuri padang dan gersang, sesekali menghiburmu dengan pemandangan seindah lukisan. Tetapi tiga tahun tak membuatmu berubah haluan, walaupun sering kamu ingin lompat dari kereta yang kamu tak tahu, sedang membawamu ke mana.

Tiga tahun yang sama juga membawanya pergi melanglang buana, dari hati yang satu ke yang lainnya, tanpa pernah membawanya kepadamu. Sering kamu berdoa, kamu rela kereta kalian bertabrakan dengan ledakan sedahsyat maut, kalau itu yang harus kamu bayar demi bertemu dengannya. Tapi jangankan aksi pahlawan kesiangan, yang kamu lihat justru dua lintasan besi paralel yang tak dapat kamu prediksi, apakah akan pernah beradu di suatu titik atau berhenti di peron yang sama.

Kamu balik buku harianmu. Satu halaman tersisa menatapmu polos, dengan pertanyaan yang tersirat: setelah tiga tahun, akankah kamu bertahan demi firasat yang tak pernah sejengkal pun mendekat pada kenyataan? Kamu alihkan pandangan ke pena di genggaman. Kamu tahu apa yang pilihan logis yang bisa kamu ambil, tapi kamu juga tahu ke mana hatimu akan kembali meloloskan diri, saat kamu lengah dan lelah menjaga penjaranya.

Setelah menata ulang keping-keping jiwa, kamu akhirnya menulis juga. Dengan templet yang sama seperti entri yang sudah-sudah. Namun kali ini kamu memilih cuma menuliskan paragraf pertama.

21 Oktober 2012

Hari ini aku masih mencintaimu.

Iklan

One thought on “Buku Harian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s