Hari Ke-5: Daun

“Ini apa?”

Di tangan mungilnya ada selembar daun. Hijau di rantingnya, menguning di pucuknya.

“Itu daun.”

Fokus pandangannya belum berubah.

“Taum?”

“Daun.”

“Haun?”

Seperti aku, yang tak pernah bisa mengeja hatimu.

“Da-un.”

“Da-u.”

“D-a-u-n.”

“D-a-u-m?”

Matanya kini bertanya kepadaku.

Aku menyerah. Suatu hari dia akan belajar mengeja daun dari buku sekolah mahal yang lengkap dengan ilustrasinya. Dan itu kalah penting ketimbang memegang daun, menelusuri jejak uratnya, menghirup aromanya. Aku mengangguk.

“Daum daun daun daum daun daum daum daun -”

Seperti aku, yang tak berhenti memanggilmu. Dalam sabar maupun tak sadar.

Untung daun tidak termasuk benda magis. Kalau iya, aku pasti sudah terhipnotis.

Kini daun itu terlipat dua oleh jarinya. Sekonyong-konyong kami membaui sesuatu di udara: bau pahit ranting yang luka, bau metalik khas klorofil. Didekatkannya daun ke hidungnya dan bisa kulihat dahinya berkerut sedikit.

Mendadak ia menjilat daun itu. Serta-merta kutarik tangannya.

“Eh, nggak boleh.. Ini bukan buat dimakan.”

Dia memandangku, tapi tak urung kembali mendekatkan tangannya ke mulut. Mungkin aku yang tak pernah paham bahwa daun mentah itu lezat.

Seperti aku yang tak berhenti mimpi, hanya untuk melukai hati.

Kutarik tangannya untuk kedua kali sambil menggelengkan kepala. Tapi dia tetap mengulang hal yang sama. Terpaksa kuambil daun itu, diiringi rengekannya.

Kalau saja ada yang bisa melarangku mencintaimu.

“Eta?”

Ayahnya berdiri di pintu gerbang. Anak kecil itu berbalik, lari ke pelukan ayahnya. Timing yang tepat, batinku, kalau tidak, mungkin dia bakal menangis gara-gara daun tadi.

“Nakal nggak dia hari ini?” tanya ayahnya.

“Biasa aja, ukuran normal buat anak seumurnya.”

Ayahnya tertawa. “Makasih ya. Eta, dadah sama kakak. Mana tangannya? Daah -”

Anak itu melambaikan tangan. Aku melambaikan tangan juga. “Dadah, Eta. Sampai ketemu.”

Mereka berjalan menjauh. Eta masih melambaikan tangan dari balik punggung ayahnya.

Aku pun tetap melambaikan tangan.

Kalau saja hatiku juga bisa mengucap perpisahan.

Pada Eta.

… padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s