Hari ke-17: Izin

Aku selalu tahu ketika saat itu tiba. Ketika pergi menjadi paksa. Seperti malam itu, ketika  kita berbincang seperti biasa.

Kamu mungkin merasa bahwa saat itu, kamu tengah bertanya pada dirimu sendiri. Menimang sembari mengutarakannya padaku, karena kebetulan akulah yang tersambung di telepon denganmu. Tapi buatku, pertanyaan itu sungguhan. Perkara keputusan akhirnya tetap di tanganmu, tetap jawabanku turut ambil bagian.

Malam itu kamu bertanya, tentang sebuah nilai moral. Tentang kesempatan, tentang resiko, tentang dia, dan tentang dia yang lainnya. Bagiku saat itu bukanlah kamu yang bertanya, melainkan semesta, meminjam suara dan batinmu, untuk memohon izin pada satu pihak yang lupa kamu pertimbangkan: aku.

Aku tahu, seandainya aku berkata tidak pun, kamu akan tetap pergi. Permohonan izin semesta, aku percaya, lebih tepat disebut pengumuman. Tapi malam itu melepasku dari segala ikat tanya. Seandainya percakapan itu tidak ada, aku akan hidup dihantui renungan kenapa-kamu-pergi. Namun berkat satu sesi telepon, dengan segala kesadaran, dengan setiap penerimaan, aku menjawab “ya”. Aku melepasmu pergi.

Belum pernah aku merasa sebebas itu dalam hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s