Hari ke-19: Jangan

Jangan mengambinghitamkan kesendirian ketika kamu sekedar malu mengakuinya. Terkadang saat kamu berani jujur, kamu akan melihat bahwa kamu tak sendiri. Bahwa halaman seberang memang hijau, tapi sebulan sekali, tepat seperti siklus halamanmu. Kebetulan saja mereka selalu hijau saat kamu menguning dan sebaliknya.

Jangan pernah berhenti, kecuali kamu punya cara menyandera waktu dan menguncinya rapat. Lawan kata dari “putus asa” bukanlah memaksakan hal yang sama lagi dan lagi, tapi mencari cara berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Atau, kembali pada cetak biru dan menata ulang bata-bata mimpi. Ketika kamu berhenti mencoba, berhenti bermimpi, berhenti menjalani, itulah keputusasaan.

Jangan bersembunyi, karena “menjaga perasaan” yang sebenarnya adalah keberanian untuk jujur. Kamu tidak sedang menjaga perasaan ketika kamu mengendapkan gunung emosi, yang beresiko meluapkan lava mendidih. Apa gunanya mempertahankan sebelanga kemanisan hanya untuk merusaknya dengan setetes kemarahan? Jujurlah, dan kita bisa belajar untuk saling paham.

Kemudian, jangan berhenti mencinta. Sekecil apapun yang kamu cinta: kerlip bintang yang cuma hitungan detik, satu halaman di internet yang jadi membosankan ketika dilihat ulang, satu kalimat cantik di buku yang membingungkan. Jangan berhenti memaknai hari, dan ia pun takkan berhenti membuatmu bermakna.

Iklan

4 thoughts on “Hari ke-19: Jangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s