Hari ke-22: Beda

Hei, kamu. Aku tak bermaksud mengungkit yang telah lalu, tapi… aku merasa perlu jujur padamu, dan sebelum waktu menyekapku makin jauh, kurasa aku perlu segera menulis padamu. Ada beberapa hal yang belum sempat terucap saat kita sepakat untuk tidak lagi saling mengikat. Bukan aku tak mau jujur. Aku cuma takut emosiku menghantam gerbong-gerbong kata dan […]

Hari ke-17: Izin

Aku selalu tahu ketika saat itu tiba. Ketika pergi menjadi paksa. Seperti malam itu, ketika ┬ákita berbincang seperti biasa. Kamu mungkin merasa bahwa saat itu, kamu tengah bertanya pada dirimu sendiri. Menimang sembari mengutarakannya padaku, karena kebetulan akulah yang tersambung di telepon denganmu. Tapi buatku, pertanyaan itu sungguhan. Perkara keputusan akhirnya tetap di tanganmu, tetap […]

Hari ke-16: Kursi-kursi

Kudengar mereka bicara tentang kejadian hari tadi. Tentang seorang anak lelaki yang kegelian saat diolesi krim tabir surya oleh ibunya. ┬áTentang es krim yang ditinggal meleleh demi ombak yang tergesa membuih.┬áTentang sepasang muda-mudi yang datang sambil bercanda, namun setengah hari kemudian pergi sambil bertarung kata. Tentang seorang kakek yang diomeli istrinya karena hampir menduduki kacamata […]

Hari ke-13: Jendela

Kamu mau tahu rasanya mencintaimu? Seperti ini. Seperti menyaksikan senja meledak dari balik jendela berdebu. Debu yang melekat di lapis luar kaca, yang tak bisa kamu hapus kecuali kamu mau taruhan nyawa bergelantungan di gedung dengan nomor lantai belasan. Kusam, tak nyata, jauh, tak sempurna. Kamu tahu itu merah, tapi yang retinamu dapat cuma merah […]

Hari ke-9: Foto

Dan tampaknya kamu tetap tidak paham kenapa aku tak berminat punya foto kita berdua. Cantikmu terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam bidang dua dimensi. Tapi kamu tak percaya alasan ini. Sungguh, aku tidak bohong. Kumohon, berhentilah mencercaku dengan pertanyaan “kompleks apanya”. Kamu bukan kompleks karena sulit dimengerti. Tapi kamu kompleks karena.. karena kamu spesial. Karena kamu […]

Hari Ke-5: Daun

“Ini apa?” Di tangan mungilnya ada selembar daun. Hijau di rantingnya, menguning di pucuknya. “Itu daun.” Fokus pandangannya belum berubah. “Taum?” “Daun.” “Haun?” Seperti aku, yang tak pernah bisa mengeja hatimu. “Da-un.” “Da-u.” “D-a-u-n.” “D-a-u-m?” Matanya kini bertanya kepadaku. Aku menyerah. Suatu hari dia akan belajar mengeja daun dari buku sekolah mahal yang lengkap dengan […]

Buku Harian

Kamu sampai di halaman terakhir, dan mendadak tanganmu enggan menulis. Kamu balik buku harian itu ke halaman pertama. 12 Oktober 2009. Kamu tertegun. Ternyata tiga tahun muat dalam dua ratus halaman A5 dengan margin dua sentimeter dan baris-baris setinggi delapan milimeter. Membaca halaman pertama membuatmu sedikit geli. Kamu membuka buku itu dengan kata sambutan seresmi […]

Surat

Salam hangat, Kami hanya ingin mengabarkan keadaan kami di sini. Ruang ini makin sesak. Bahkan lorong-lorong yang dulu lenggang kini seperti menyempit. Hawa sehari-hari sangatlah pengap dan beberapa kali kami bahkan merasa kehabisan oksigen untuk bernapas. Kami menulis surat ini karena kami tahu Anda memiliki kuasa penuh untuk membebaskan kami. Jujur, kami cukup menyayangkan keputusan […]

Saatnya

Jangan lagi kamu tak terima, mengira aku tak mengerti. Aku sangat mengerti, dan akhirnya bisa menerima. Tak ada lagi yang tersisa untuk dipahami; memang sudah waktunya kamu pergi. Puisimu telah berubah jadi kata-kata yang hilang makna, dan doa-doaku sudah kehabisan dupa. Apalah gunanya? Menahanmu di sini takkan membawa kita ke mana-mana. Tidak semua pohon tumbuh […]

Sandiwara

Selamat. Wajahmu menghiasi halaman pertama surat kabar hari ini. Jauh lebih yang dari kamu harapkan, para kritikus mengagungkan penampilanmu kemarin malam. Sebuah monolog tentang cinta seringkali membosankan, kata mereka, namun sandiwaramu sungguh luar biasa. Kamu berhasil menghidupkan sang tokoh utama, pecinta yang hatinya tinggal setengah. Mereka tidak pernah tahu itu adalah kisah paling nyata.