48

48 pertanyaan. Mungkin kurang, mungkin lebih, mungkin tak terbaca, mungkin tak berjawab, mungkin tentangmu, mungkin tentangku, mungkin bukan apa-apa, mungkin basa-basi, mungkin benar dari hati. 48 momen. Bahwa ada jerawat kecil di tengkukmu, bahwa kaki kirimu punya bekas jahitan, bahwa matamu bersinar cokelat muda ketika matahari menyapa, bahwa jemarimu mampu menelusuri renggang jemariku tanpa kesulitan, […]

Hari ke-25: Seolah

Tidakkah itu lucu bahwa kata-kata tak pernah lupa mampir saat kamu tak membutuhkan mereka, namun selalu hilang ketika kamu paling ingin berbicara? Tidakkah itu lucu bahwa hitungan hari bisa begitu lambat dan cepat pada waktu yang bersamaan, jika diukur dari frekuensi kita bertemu dan total waktu yang kita habiskan untuk sungguhan berdua? Tidakkah itu lucu […]

Hari ke-24: Kalian

  Karena ada hari-hari panjang di antara kalian yang takkan tergantikan oleh puisi, senyum, tatap mata, canda, peluk, atau jujur. Karena ada milyaran detik yang kalian lupakan sebagai biasa, yang sering justru menjadi fondasi kuat untuk hal-hal luar biasa, dan seandainya bisa, akan kutukar dengan apa saja. Karena, kalian ada.

Hari ke-22: Beda

Hei, kamu. Aku tak bermaksud mengungkit yang telah lalu, tapi… aku merasa perlu jujur padamu, dan sebelum waktu menyekapku makin jauh, kurasa aku perlu segera menulis padamu. Ada beberapa hal yang belum sempat terucap saat kita sepakat untuk tidak lagi saling mengikat. Bukan aku tak mau jujur. Aku cuma takut emosiku menghantam gerbong-gerbong kata dan […]

Hari ke-19: Jangan

Jangan mengambinghitamkan kesendirian ketika kamu sekedar malu mengakuinya. Terkadang saat kamu berani jujur, kamu akan melihat bahwa kamu tak sendiri. Bahwa halaman seberang memang hijau, tapi sebulan sekali, tepat seperti siklus halamanmu. Kebetulan saja mereka selalu hijau saat kamu menguning dan sebaliknya. Jangan pernah berhenti, kecuali kamu punya cara menyandera waktu dan menguncinya rapat. Lawan […]

Hari ke-18: Hantu

Karena terkadang, menjadi tahu akan sesuatu menjadikannya hantu. Bagaimana logikanya, ketika pengetahuan berarti jawab, terang akan sebuah masalah, namun justru jadi hantu? Bukankah harusnya ketidaktahuan adalah gelap yang lebih menakutkan? Aku tak mengerti. Dan kamu tetap memilih membiarkan tanya menggantung di udara. Menguap terbungkus karbon dioksida.  

Hari ke-17: Izin

Aku selalu tahu ketika saat itu tiba. Ketika pergi menjadi paksa. Seperti malam itu, ketika ┬ákita berbincang seperti biasa. Kamu mungkin merasa bahwa saat itu, kamu tengah bertanya pada dirimu sendiri. Menimang sembari mengutarakannya padaku, karena kebetulan akulah yang tersambung di telepon denganmu. Tapi buatku, pertanyaan itu sungguhan. Perkara keputusan akhirnya tetap di tanganmu, tetap […]

Sekarton Telur

Halo, Kawan. Berhari-hari aku memikirkan celetukmu kapan lalu. Kurasa kamu benar. Hari itu kita bertemu di pasar swalayan. Tak sengaja. Di depan tumpukan telur, dalam karton-karton isi dua belas butir. Aku tengah menyortir karton demi karton, untuk mendapatkan satu paket yang utuh tak bercela. Kamu memandangiku heran, karena aku mulai menyortir sebelum kamu tiba dan […]