Hari ke-12: Ranting

  Lupakan warna. Terkadang hidup lebih mudah dipahami ketika merah, kuning dan hijau bisa direduksi menjadi hitam dan putih. Lupakan kita. Mungkin hati lebih mudah dimengerti ketika kamu dan aku adalah dua yang tak pernah bersinggungan. Tapi tanpamu, aku daun yang kehilangan ranting. Iklan

Hari ke-3: Gadis Penjual Korek Api

gadis penjual korek api, matanya jalang membakar nyali belasan tahun ia lalui, di petak selebar lima kaki panas dingin tunduk pada tangguhnya terik salju pada gigihnya gadis penjual korek api, hatinya usang dimakan rindu akan seorang ibu yang tak pernah ketemu. pandang-pandang jengah tak surutkan jengkahnya ciprat hujan tak hanguskan sumbu energinya gadis penjual korek […]

Bahwa Mimpi

Bahwa mimpi adalah bunga tidur, aku juga tahu, Sayang. Tapi aku tak pernah diingatkan kalau bunga, tangkainya mungkin berduri. Bahwa bunga apik dirangkai, aku selalu tahu, Sayang. Tapi aku tak pernah diingatkan kalau setiap tangkai yang ditata kutancap tepat ke jantung rinduku yang cuma ada satu. Bahwa mimpi membawa dadu, taruhan waktu dengan aku aku […]

Kamu Seperti

Kamu datang bagai hujan sederhana, manis, tak berarti – kelihatannya – namun membawa guntur dan rantaian halilintar di belakangnya. Kamu adalah pusaran air menakjubkan mengundang tanya menggelitik rasa namun sekali kuinjakkan kaki hanyut selamanya, adalah harga mati. Kamu mewarnai langit selincah pelangi yang memainkan pensilnya namun selalu lupa menggambar habis ke ujung dan sejauhpun langkah […]

Kerlip Kecil Di Meja Nakas

Kerlip kecil di meja nakas memanggil anak-anak yang hilang, pulang: para pengembara lintas waktu yang usianya lupa untuk lanjut Kerlip  mungil di meja nakas, semburkan merah muda Kalau saja tak minus detak dan nyawa mungkin telah kupindah ke kamarmu ke gamangmu ke kosongmu yang acap kaukeluhkan padaku Kerlip kecil di meja nakas sisakan ceruk yang […]

Untitled

Seribu hari kita lalui erat kudekap, cinta tak tersurat langkah lakumu masih desirkan dada Apalah dayaku? Meraihmu, adalah mimpi yang pelan-pelan mati Anganku kehabisan napas tinggal sumbu hangus, di ujung doa-doa Ungkap sayang yang tak terucap luruhkan yakinku Aku bukan siapa-siapa, ternyata; namaku bukan saklar yang buat matamu berbinar genggamku bukan yang membuatmu hangat dan […]

Pelangi

merah di pipimu jingga dipercik senja kuning melebur antaranya hijau semak tempat kita terlentang biru menghapus dirinya dari pigura langit nila menyeruak di ufuk barat ungu menjemput malam yang tengah mendandani diri dengan kerlip bintang semenjak mencintaimu aku tak lagi butuh pelangi.