Hari ke-22: Beda

Hei, kamu.

Aku tak bermaksud mengungkit yang telah lalu, tapi… aku merasa perlu jujur padamu, dan sebelum waktu menyekapku makin jauh, kurasa aku perlu segera menulis padamu.

Ada beberapa hal yang belum sempat terucap saat kita sepakat untuk tidak lagi saling mengikat. Bukan aku tak mau jujur. Aku cuma takut emosiku menghantam gerbong-gerbong kata dan meledakkannya di depanmu. Kamu pernah jadi nomor satu, tak pantas kamu mendadak jungkir balik di peringkat cintaku.

Lucu, ya, bagaimana hidup suka bercanda. Aku jatuh cinta pada perbedaan kita, lalu aku jatuh timpang pada perbedaan pula. Untuk saling melengkapi ternyata butuh toleransi tinggi. Untuk saling melengkapi, ternyata tidak semudah menjumlah bilangan negatif dan positif.

Tak ada keraguan dalam hatiku bahwa kamu pun berusaha mempertahankan kita sebagai ‘kita’. Tapi cinta ini bukan lagi rajutan, Sayang. Cinta ini telah menjadi tambal sulam. Tak jarang keinginan kita untuk mencintai justru terartikan sebagai menyakiti. Dan kadang, daripada sibuk menambal ulang kain yang usang, kita bisa lebih cepat menjahit dengan lembar kain yang baru.

Maafkan aku, yang memilih saat yang tak tepat untuk mengajukannya padamu. Di saat hidupmu kalang-kabut, di saat tekanan menyerut perbedaan kita jadi makin runcing, di saat harusnya aku memeluk, aku justru melepasmu. Aku masih ingat benar nanar pandangmu malam itu. Tak menyangka bahwa orang yang paling kamu sayang, bermutasi jadi orang yang paling tega. Dan aku tak punya pembelaan apa-apa hingga sekarang. Tak juga sesuatu untuk mengobati luka. Aku cuma punya kata maaf. Meski mungkin tak pernah cukup bagimu.

Maafkan aku.

Hari ke-19: Jangan

Jangan mengambinghitamkan kesendirian ketika kamu sekedar malu mengakuinya. Terkadang saat kamu berani jujur, kamu akan melihat bahwa kamu tak sendiri. Bahwa halaman seberang memang hijau, tapi sebulan sekali, tepat seperti siklus halamanmu. Kebetulan saja mereka selalu hijau saat kamu menguning dan sebaliknya.

Jangan pernah berhenti, kecuali kamu punya cara menyandera waktu dan menguncinya rapat. Lawan kata dari “putus asa” bukanlah memaksakan hal yang sama lagi dan lagi, tapi mencari cara berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Atau, kembali pada cetak biru dan menata ulang bata-bata mimpi. Ketika kamu berhenti mencoba, berhenti bermimpi, berhenti menjalani, itulah keputusasaan.

Jangan bersembunyi, karena “menjaga perasaan” yang sebenarnya adalah keberanian untuk jujur. Kamu tidak sedang menjaga perasaan ketika kamu mengendapkan gunung emosi, yang beresiko meluapkan lava mendidih. Apa gunanya mempertahankan sebelanga kemanisan hanya untuk merusaknya dengan setetes kemarahan? Jujurlah, dan kita bisa belajar untuk saling paham.

Kemudian, jangan berhenti mencinta. Sekecil apapun yang kamu cinta: kerlip bintang yang cuma hitungan detik, satu halaman di internet yang jadi membosankan ketika dilihat ulang, satu kalimat cantik di buku yang membingungkan. Jangan berhenti memaknai hari, dan ia pun takkan berhenti membuatmu bermakna.

Hari ke-18: Hantu

lampu

Karena terkadang, menjadi tahu akan sesuatu menjadikannya hantu. Bagaimana logikanya, ketika pengetahuan berarti jawab, terang akan sebuah masalah, namun justru jadi hantu? Bukankah harusnya ketidaktahuan adalah gelap yang lebih menakutkan? Aku tak mengerti.

Dan kamu tetap memilih membiarkan tanya menggantung di udara. Menguap terbungkus karbon dioksida.

 

Hari ke-17: Izin

Aku selalu tahu ketika saat itu tiba. Ketika pergi menjadi paksa. Seperti malam itu, ketika  kita berbincang seperti biasa.

Kamu mungkin merasa bahwa saat itu, kamu tengah bertanya pada dirimu sendiri. Menimang sembari mengutarakannya padaku, karena kebetulan akulah yang tersambung di telepon denganmu. Tapi buatku, pertanyaan itu sungguhan. Perkara keputusan akhirnya tetap di tanganmu, tetap jawabanku turut ambil bagian.

Malam itu kamu bertanya, tentang sebuah nilai moral. Tentang kesempatan, tentang resiko, tentang dia, dan tentang dia yang lainnya. Bagiku saat itu bukanlah kamu yang bertanya, melainkan semesta, meminjam suara dan batinmu, untuk memohon izin pada satu pihak yang lupa kamu pertimbangkan: aku.

Aku tahu, seandainya aku berkata tidak pun, kamu akan tetap pergi. Permohonan izin semesta, aku percaya, lebih tepat disebut pengumuman. Tapi malam itu melepasku dari segala ikat tanya. Seandainya percakapan itu tidak ada, aku akan hidup dihantui renungan kenapa-kamu-pergi. Namun berkat satu sesi telepon, dengan segala kesadaran, dengan setiap penerimaan, aku menjawab “ya”. Aku melepasmu pergi.

Belum pernah aku merasa sebebas itu dalam hidup.

Sekarton Telur

Halo, Kawan.

Berhari-hari aku memikirkan celetukmu kapan lalu. Kurasa kamu benar.

Hari itu kita bertemu di pasar swalayan. Tak sengaja. Di depan tumpukan telur, dalam karton-karton isi dua belas butir. Aku tengah menyortir karton demi karton, untuk mendapatkan satu paket yang utuh tak bercela. Kamu memandangiku heran, karena aku mulai menyortir sebelum kamu tiba dan masih belum selesai saat kamu sudah hendak beralih ke rak sayur.

Kamu bertanya, kenapa aku belum selesai juga. Aku bilang, karena dari tadi tak ada karton yang sempurna. Ada yang hampir sempurna, namun satu telur di ujung belakang mulai retak. Dan aku tak mau resiko pulang dengan kantong plastik basah, amis, gara-gara telur pecah.

“Ya udah, tuker aja yang satu itu sama satu biji yang oke dari karton lain. Beres kan?”

Mendengar jawabmu tak ubahnya mendengar berita pendaratan manusia di bulan kali pertama. Seperti apa wajahku saat itu, Kawan? Melongo lebar? Tatapan mata yang meneriakkan ‘eureka’? Demi apapun juga, tak pernah terlintas di benakku untuk melakukan hal itu, bahkan dalam jangka tahunan aku bolak-balik ke pasar swalayan. Aku tidak cukup peduli untuk ambil repot menata ulang karton telur di pasar swalayan, di depan rak bermesin pendingin empat derajat Celcius, apalagi dengan resiko menyentuh cairan telur yang pecah, yang baunya…

“Kayak hidup, ya,” tahu-tahu kamu berkata. Dengan mata jenaka.

Saat itu aku tak mengerti. Tapi sekarang, kurasa aku bisa mulai mengeja. Gara-gara satu telur rusak, aku membuang satu karton. Sedangkan kamu, sudi repot-repot menukar telur dari dua karton demi bertahan pada satu karton yang sudah memenuhi 11/12 syarat. Kurasa aku mengerti.

Terima kasih untuk ajaran kecilmu, Kawan.

 

Hari ke-16: Kursi-kursi

kursi yang bicaraKudengar mereka bicara tentang kejadian hari tadi. Tentang seorang anak lelaki yang kegelian saat diolesi krim tabir surya oleh ibunya.  Tentang es krim yang ditinggal meleleh demi ombak yang tergesa membuih. Tentang sepasang muda-mudi yang datang sambil bercanda, namun setengah hari kemudian pergi sambil bertarung kata. Tentang seorang kakek yang diomeli istrinya karena hampir menduduki kacamata hitamnya lagi dan lagi. Tentang layar segiempat warna-warni yang lebih memikat penggunanya daripada angkasa bersenja yang cuma empat, atau lima warna.

Suatu hari, mereka akan bicara tentang kita. Semoga.

Untuk…

Lengkung bibirmu adalah kurva yang mengubah titik pencarian jadi pertanyaan akan tujuan.

Kata-katamu adalah pasir gula. Sederhana untuk diresapi indera, tanpa melupakan manisnya.

Nyanyimu adalah pantulan tetes tirta yang menggetarkan cermin sungai.

Teruslah berkarya. Teruslah menjadi duta bagi huruf-huruf yang tersisihkan, bagi kata-kata yang dihempas waktu ke karang sejarah, bagi nada yang disekap gema di sesak goa.

untuk @rahneputri