Hari ke-17: Izin

Aku selalu tahu ketika saat itu tiba. Ketika pergi menjadi paksa. Seperti malam itu, ketika  kita berbincang seperti biasa. Kamu mungkin merasa bahwa saat itu, kamu tengah bertanya pada dirimu sendiri. Menimang sembari mengutarakannya padaku, karena kebetulan akulah yang tersambung di telepon denganmu. Tapi buatku, pertanyaan itu sungguhan. Perkara keputusan akhirnya tetap di tanganmu, tetap […]

Sekarton Telur

Halo, Kawan. Berhari-hari aku memikirkan celetukmu kapan lalu. Kurasa kamu benar. Hari itu kita bertemu di pasar swalayan. Tak sengaja. Di depan tumpukan telur, dalam karton-karton isi dua belas butir. Aku tengah menyortir karton demi karton, untuk mendapatkan satu paket yang utuh tak bercela. Kamu memandangiku heran, karena aku mulai menyortir sebelum kamu tiba dan […]

Untuk…

Lengkung bibirmu adalah kurva yang mengubah titik pencarian jadi pertanyaan akan tujuan. Kata-katamu adalah pasir gula. Sederhana untuk diresapi indera, tanpa melupakan manisnya. Nyanyimu adalah pantulan tetes tirta yang menggetarkan cermin sungai. Teruslah berkarya. Teruslah menjadi duta bagi huruf-huruf yang tersisihkan, bagi kata-kata yang dihempas waktu ke karang sejarah, bagi nada yang disekap gema di […]

Hari ke-14: Langkah

Seminggu. Entah kenapa tiap mengingatnya aku jadi gugup. Tahun berapa kita terakhir ketemu? Aku tak ingat. 2004? 2005? Yang aku ingat cuma langkah kakimu yang mengetuk lantai koridor tiap kali aku memutar lagu kesukaanmu. Beserta kemunculanmu yang tiba-tiba di pintu kamarku. Beserta cerita-cerita panjang yang mengikutinya. Aku masih belum paham jelas bagaimana kamu bisa mendengarnya, […]

Pergilah Sayang – 30 Hari Menulis Surat Cinta #24

Mimpiku cuma satu: mewujudkan mimpimu. Aku adalah manusia paling subjektif di dunia untuk hal-hal yang berkaitan denganmu. Tak ada yang lebih kuhindari dari air matamu, tak ada yang lebih kucari dari tawamu. Sayang aku bukan tukang sulap, juga tak punya topi hitam. Lima tahun lalu kulepas kepergianmu. Cuma butuh satu detik untukmu membalikkan badan menjauh, […]

Dua Hari – 30 Hari Menulis Surat Cinta #15

Sayang, suratmu sudah aku terima. Sudah kubaca, berulang kali sampai tak karuan bentuknya. Ada jejak tangan di sana, ada noda minyak dari pisang goreng kemarin sore, ada cap cangkir kopi di pojoknya. Oh, mungkin ada titik air mata yang tercampur – aku tak yakin betul. Kuharap kamu tak lantas marah padaku. Bukan aku tak menghargainya; […]

Selamat – 30 Hari Menulis Surat Cinta #13

Hei, kamu. Selamat ya. Aku tahu hari ini bukan hari ulang tahunmu, bukan hari peringatan kelulusanmu, bukan juga hari raya semacam tahun baru. Intinya, hari ini bukanlah hari yang krusial untuk kamu peringati, melainkan untukku. Tepat tiga tahun lalu di tanggal ini, aku tersandung sorot matamu. Tepat tiga tahun aku mengisi mimpi dengan tawamu. Tepat […]

Kemarin – 30 Hari Menulis Surat Cinta #9

Kamu lagi nganggur nggak? Aku lagi punya banyak cerita. Nggak penting-penting banget sih benernya. Kemarin aku jalan-jalan ke pantai. Itu, tempat kamu biasanya berselancar sama teman-temanmu. Well, aku cuma jalan-jalan doang, abisnya kamu tahu kan aku nggak bisa berselancar. Udah, jangan ketawa, aku masih ingat kok kejadian konyol pas kamu ngajarin aku dulu. Terus dari […]

Hari Istimewa – 30 Hari Menulis Surat Cinta #8

Selamat pagi, Sayang. Akhirnya hari istimewa ini tiba juga. Perasaanku saat ini bercampur aduk, bagaimana denganmu? Sebagian diriku berdebar menanti, sebagian lagi ingin membekukan detik. Aku sungguh bingung. Jujur, sejak aku membuka mata subuh tadi, aku terus mengulang pertanyaan yang sama: benarkah ini keputusan yang tepat? Memberikan cinta pada seorang yang belum kukenal lama. Belum […]

Surat Hari Kamis – 30 Hari Menulis Surat Cinta #6

Cinta memang membuat manusia melakukan hal-hal tak terduga. Aku sendiri, contohnya. Sejak mencintaimu secara rahasia. Kita ketemu cuma seminggu sekali. Setiap Kamis sore, di pertemuan mingguan klub karate kampus. Setiap Kamis sore, kamu sukses membuat mataku terpaku. Sejak tiga tahun lalu saat kita sama-sama mahasiswa bau kencur. Selama tiga tahun itu juga, aku konstan menulis […]