Hari ke-22: Beda

Hei, kamu. Aku tak bermaksud mengungkit yang telah lalu, tapi… aku merasa perlu jujur padamu, dan sebelum waktu menyekapku makin jauh, kurasa aku perlu segera menulis padamu. Ada beberapa hal yang belum sempat terucap saat kita sepakat untuk tidak lagi saling mengikat. Bukan aku tak mau jujur. Aku cuma takut emosiku menghantam gerbong-gerbong kata dan […]

Hari ke-16: Kursi-kursi

Kudengar mereka bicara tentang kejadian hari tadi. Tentang seorang anak lelaki yang kegelian saat diolesi krim tabir surya oleh ibunya.  Tentang es krim yang ditinggal meleleh demi ombak yang tergesa membuih. Tentang sepasang muda-mudi yang datang sambil bercanda, namun setengah hari kemudian pergi sambil bertarung kata. Tentang seorang kakek yang diomeli istrinya karena hampir menduduki kacamata […]

Hari ke-13: Jendela

Kamu mau tahu rasanya mencintaimu? Seperti ini. Seperti menyaksikan senja meledak dari balik jendela berdebu. Debu yang melekat di lapis luar kaca, yang tak bisa kamu hapus kecuali kamu mau taruhan nyawa bergelantungan di gedung dengan nomor lantai belasan. Kusam, tak nyata, jauh, tak sempurna. Kamu tahu itu merah, tapi yang retinamu dapat cuma merah […]

Hari ke-9: Foto

Dan tampaknya kamu tetap tidak paham kenapa aku tak berminat punya foto kita berdua. Cantikmu terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam bidang dua dimensi. Tapi kamu tak percaya alasan ini. Sungguh, aku tidak bohong. Kumohon, berhentilah mencercaku dengan pertanyaan “kompleks apanya”. Kamu bukan kompleks karena sulit dimengerti. Tapi kamu kompleks karena.. karena kamu spesial. Karena kamu […]

Buku Harian

Kamu sampai di halaman terakhir, dan mendadak tanganmu enggan menulis. Kamu balik buku harian itu ke halaman pertama. 12 Oktober 2009. Kamu tertegun. Ternyata tiga tahun muat dalam dua ratus halaman A5 dengan margin dua sentimeter dan baris-baris setinggi delapan milimeter. Membaca halaman pertama membuatmu sedikit geli. Kamu membuka buku itu dengan kata sambutan seresmi […]

Surat

Salam hangat, Kami hanya ingin mengabarkan keadaan kami di sini. Ruang ini makin sesak. Bahkan lorong-lorong yang dulu lenggang kini seperti menyempit. Hawa sehari-hari sangatlah pengap dan beberapa kali kami bahkan merasa kehabisan oksigen untuk bernapas. Kami menulis surat ini karena kami tahu Anda memiliki kuasa penuh untuk membebaskan kami. Jujur, kami cukup menyayangkan keputusan […]

Saatnya

Jangan lagi kamu tak terima, mengira aku tak mengerti. Aku sangat mengerti, dan akhirnya bisa menerima. Tak ada lagi yang tersisa untuk dipahami; memang sudah waktunya kamu pergi. Puisimu telah berubah jadi kata-kata yang hilang makna, dan doa-doaku sudah kehabisan dupa. Apalah gunanya? Menahanmu di sini takkan membawa kita ke mana-mana. Tidak semua pohon tumbuh […]

Sandiwara

Selamat. Wajahmu menghiasi halaman pertama surat kabar hari ini. Jauh lebih yang dari kamu harapkan, para kritikus mengagungkan penampilanmu kemarin malam. Sebuah monolog tentang cinta seringkali membosankan, kata mereka, namun sandiwaramu sungguh luar biasa. Kamu berhasil menghidupkan sang tokoh utama, pecinta yang hatinya tinggal setengah. Mereka tidak pernah tahu itu adalah kisah paling nyata.

Kamu Dan Daun

Kamu adalah embun pagi. Jatuh dari tahta angkasa, hinggap di daun mungil. Kamu dan daun itu ialah siratan makna “serasi”. Di tengah udara yang tak bernyawa, kamu tak teridentifikasi. Di atas lembar berklorofil, kamu medium manifestasi spektrum warna. Daun itu pun bukan apa-apa tanpamu. Tanpa kilau kerlingmu, matahari adalah mahadahsyat yang tak terhingga; lewat pantulanmu, […]

22

Setumpuk kartu warna-warni dan sebuah kanvas satu meter persegi. Teman kosku yang kebetulan lewat di depan pintu kamar yang terbuka setengah, berkata dengan alis terangkat sebelah, “Aku baru tahu ada elektif kerajinan tangan di kuliah teknik.” Aku tertawa. “Seandainya aku segitu cintanya dengan seni sampai mengalokasikan satu elektif, mungkin dulu aku sudah memilih masuk jurusan […]